Jumat, 04 April 2025

14

 

            Hari jumat pada umumnya menjadi hari santai bagi hampir seluruh karyawan. Selain jam istrirahat yang cukup lama karena sholat jumat, juga karena jadwal rapat seringkali kosong di hari tersebut. Elok pun berangkat kerja dengan perasaan ringan, karena sabtu-minggu ia akan bersantai menikmati libur. Berjalan dari tempat parkir hingga naik ke ruangan Elok sengaja tetap mengenakan penyuara telinga. Musik slow mengalun membawa Elok pada perasaan damai dan relaks. Beberapa kawan yang ia jumpai di lift hanya ia sapa dengan senyum atau lambaian tangan. Tak ada satu suara pun yang ia biarkan mendistrak rasa bahagianya pagi ini, atasannya sekalipun. Elok tiba di ruangan, meletakkan tas, menyalakan komputer, kemudian ke toilet untuk merapikan rambut dan riasannya. Setelah usai ia ke pantry untuk membuat segelas kopi. Elok masih enggan melepaskan musik di telinganya, hingga Dharma menyapanya di pantry.

            ”Kapan rencana pulang El?”

            ”Pulang kemana?” Elok tersenyum.

            ”Ke Kuala.” Dharma menunjuk ke arah barat.

            ”Mungkin akhir tahun.” Elok tampak ragu-ragu.

            ”Lama banget. Nggak kangen abang?” Dharma tersenyum, Elok pun turut tersenyum, ia paham maksud kawannya itu. Sebelum Elok bekerja, Gardana pernah beberapa kali membawa Elok ke kampung halamannya, dan bertemu Dharma disana. Saat tiba di kantor ini, Elok baru sadar jika Dharma satu kantor dengannya, karena lebih seringnya Dharma tugas di luar kota.

            ”Masih kan?” Dharma memastikan. Elok menggangguk saja sembari tetap tersenyum. Ia seperti tak ingin menjawab dengan gamblang. Biar saja ini menggantung saja. Biar mereka yang menyimpulkan sendiri. Mungkin itulah yang dipikirkan Elok.

            Seperti sudah mendapatkan jawaban yang ia mau, Dharma berlalu meninggalkan pantry. Elok tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas. Jantungnya berdegub kencang seperti tengah meluapkan rasa bersalah. Pikirannya tak jelas berlarian ke sudut-sudut kemungkinan yang ia benci. Entah mengapa.

Perasaan kacau itu tiba-tiba buyar saat Afif menelepon.

“Halo iya.”

“Bantu cek jadwal meeting sama team legal kapan El?” Dari jauh Afif terdengar terburu-buru. Elok bergegas ke mejanya.

            ”Selasa, jam 2 siang.” Setelah melihat jadwal yang ada di komputernya.

            ”Bantu re-schedule dong. Selasa ada keperluan mendadak nih.” Afif meminta pada Elok.

            ”Maunya kapan? Karena Pak Abu yang minta di hari itu.” Elok mengingat-ingat saat Pak Abu kebingungan mengatur jadwalnya dengan team legal.

            ”Pak Abu mah gampang, yang penting kan hasilnya.” Afif tetap ingin jadwal diubah. Elok patuh, ia coba menghubungi team legal dan mendapatkan jadwal sesuai keinginan Afif, mundur 2 minggu.

            “Oke sudah aman.” Elok mengakhiri telepon.

            ”Siapa?” Aco sudah berdiri di hadapan Elok dan menanyakan yang ia telepon.

            ”Afif.” Elok menjawab sambil menutup ponselnya.

            ”Ngapain dia?” Aco bertanya lagi dengan nada yang membuat Elok kurang nyaman.

            ”Minta bantu re-schedule meeting doang.” Elok menjawab dingin.

            “Kok ke kamu, kan bisa ke adminnya.” Pertanyaan Aco mulai intimidatif. Elok tak bisa menjawab lagi.

            “Lain kali arahin ke Dinda aja, jangan kamu yang kerjain.” Aco mengucapkan itu dengan penuh penekanan, lalu meninggalkan meja Elok dan berjalan menuju toilet. Elok masih tak memahami situasi yang baru terjadi. Ia seakan ditegur untuk hal yang bukan kesalahannya. Tetapi ia tak punya jawaban untuk membela diri. Tetapi ia juga kesal dengan sikap Aco yang seakan memojokkannya. Tetapi-tetapi yang lain yang membuat Elok merasa hari itu ada sisi lain Aco yang baru ia lihat.

            Dari jauh ternyata Dharma mengamati situasi itu, wajah Aco yang intens melihat ke arah Elok, Elok yang tampak menjawab dengan takut-takut, semua itu terasa janggal bagi Dharma.

 

**

 

            Lama Elok tampak menganggur, tak terasa bell istirahat siang berbunyi. Seisi ruangan berebut keluar untuk makan siang. Elok masih berdiam diri di meja, ia masih bingung hendak makan apa hari ini. Beberapa kawan perempuan mengajaknya makan bersama, Elok menolak dengan halus. Karena siang ini bebar-benar istirahat panjang dan sayang jika hanya tinggal di ruangan.

            ”Ayok El, kita mau makan kepiting.” Safira yang keluar dari toilet mengajak Elok. Safira seperti orang terakhir yang ada di ruangan. Para lelaki sudah menuju masjid untuk sholat jumat.

            ”Dimana?” Elok bertanya dengan kurang semangat.

            ”Arah Manggar, yuk. Udah pada nunggu di bawah.” Safira meyakinkan. Seperti kena hipnotis Elok mengikuti ajak Safira.

            Di depan kantor sudah berkumpul sekitar 4 orang termasuk Bu Santi. Mereka menunggu Jenni mengambil mobil di parkiran.

            ”Tumben mbak mau ikut.” Bu Santi sedikit kaget melihat Elok. Saat Jenni tiba pun ia kaget melihat Elok yang tiba-tiba mau bergabung makan siang dengan mereka.

            Tiba di salah satu restaurant seafood, mereka sudah siap memesan menu combo yang bisa dimakan bersama. Saat menunggu makanan datang, masing-masing dari mereka sudah sibuk mengobrol. Yang tersisa hanya Elok dan Safira yang diam saling berpandangan. Mereka canggung, seperti ada yang ingin ditanyakan.

            ”Kemana libur kemaren El? Katanya kamu pulang ya?” Safira berbasa-basi. Elok tak siap mendengar pertanyaan itu. Ia kewalahan dan hanya memilih tersenyum dan mengangguk.

            ”Pulang kampung El? Ada acara apa?” Dinda ikut bertanya.

            ”Berapa jam sih El kalau dari sini?” Bu Santi juga turut menambahkan.

            ”Sekitar 8 jam bu.” Hanya pertanyaan Bu Santi yang dijawab Elok.

            ”Jauh ya? Capek banget.” Bu Santi menanggapi.

            “Denger-denger kamu dideketin Aco?” Tanpa basa-basi Jenni bertanya.

            ”Hah? Nggak.” Dengan spontan Elok menjawab. Dalam situasi itu seperti tidak tepat jika ia jawab dengan jujur.

            ”Iya janganlah ya.” Bu Santi terkekeh. Elok memilih tidak bertanya lebih lanjut.

            ”semua orang juga dideketin masalahnya.” Jenni menimpali Bu Santi sambil tertawa.

            ”Masa iya?” Bu Santi bertanya polos.

            ”Iya lah. Nih nih nih korbannya.” Jenni menunjuk Dinda, Safira, dan dirinya sendiri. Bu Santi terdiam tak lagi berkomentar, Elok pun sama namun kepalanya tiba-tiba dipenuhi banyak pertanyaan. Hatinya sedikit terluka. Kembali ada sisi lain yang sepertinya tidak ia ketahui dari kekasihnya itu. Atau mungkin ia memang belum mengenal lelaki Aco? Menyelesaikan makan siang dan kembali ke kantor dengan perasaan yang kurang nyaman.

 

**

 

            Elok tiba di kantor 5 menit setelah bel masuk. Aco sudah ada di mejanya. Aco sedikit terkejut melihat Elok datang bersama gerombolan ibu-ibu yang sedari awal ia wanti-wanti agar tidak Elok dekati. Pun setahu Aco, Elok juga tidak nyaman bergabung dengan gerombolan itu. Aco spontan langsung bertanya pada Elok.

            ”Darimana?” Aco mengirim pesan. Di mejanya Elok tampak membuka komputer dan sudah mulai bekerja.

            ”PING!” Aco mengirim pesan lagi. Elok masih belum membalas.

            ”PING!”

            ”PING!”

”PING!”

            ”PING!”

”PING!”

            ”PING!”

”PING!”

            ”PING!”

            Terus saja Ao mengirim pesan, tak terlihat Elok membalasnya atau sekadar membacanya. Aco tidak sabar menunggu, ia pun beranjak dari kursi dan menghampiri Elok.

            ”Mana Hapemu?” Wajah Aco tampak marah, Elok yang tengah membuat laporan seketika langsung merogoh ponselnya di dompet yang tadi ia bawa.

            ”Kenapa?” Elok bertanya sembari membuka ponselnya.

            ”Balas itu.” Aco melotot kepada Elok, suaranya pelan namun penuh penekanan. Wajahnya merah padam seolah kesalahan Elok amat fatal. Elok bergegas membalas pesan itu.

            ”Manggar. Makan kepiting.” Elok membalas.

            ”Sama mereka?” Aco kembali memastikan.

            ”Iya.” Elok membalas singkat.

            ”Kenapa? Tumben?” Aco kesal.

            ”Kenapa? Sesekali aja.” Elok membalas cepat.

            ”Terakhir ya, jangan lagi.” Aco melarang.

            ”Kenapa emang?” Elok bertanya.

            ”Mereka penggosip. Isinya ghibah kan pasti?” Aco curiga. Elok ingin sekali membahas dengan Aco yang tadi ia dengar, namun ia enggan karena masih merasa sakit hati dengan itu. Lebih tepatnya ia tak siap mendengar jawaban Aco. Ia memilih mengakhiri obrolan itu dengan mengiyakan kemauan Aco.

 

           

Selasa, 01 April 2025

13

 

Karyawan baru, pasangan  baru, bahan baru, rumor baru, semangat baru.

Seisi Main Office kini tengah ramai dengan konspirasi bolosnya 2 karyawan yang diduga tengah pergi berdua. Pembawa kabar pertama adalah Daniel, dan yang lainnya adalah Iyan. Daniel dan Iyan antusias memimpin sebuah rapat ghibah yang dihelat di meja kantin sepanjang coffee break. Dijamu seceret kopi dan sepiring kacang kulit, meja itu menjadi menarik bagi siapapun yang melintas. Agendanya jelas, Elok dan Aco. Beberapa dari mereka pada akhirnya bertaruh.

“100 ribu pertama mereka nggak pacaran. Aku kenal cowoknya Elok soalnya.” Dharma, teman  SMP Gardana saat di Bontang.

“100 ribu kedua mereka pergi berdua tapi nggak pacaran. Karena memang setau aku Aco punya pacar.” Kailani, orang yang cukup dekat dengan Aco.

“200 ribu mereka pacaran tapi bakal putus kurang dari 3 bulan.” Iyan bersemangat.

“Jahat lu yan.” Tigor mesam-mesem dengan taruhan Iyan.

“Aku yakin Aco nggak mungkin serius. Dan Elok juga kayaknya agak nggak beres nggak sih?” Iyan menambahkan.

“500 ribu mereka pacaran tapi akan backstreet beberapa saat dan akan cukup langgeng.” Daniel dengan cukup yakin.

Disusul taruhan-taruhan dari orang-orang lainnya yang juga tak kalah antusias dengan setiap kemungkinan-kemungkinan yang ditulis detail di catatan milik Daniel. Mereka bubar ketika bel tanda coffee break berakhir berbunyi.

Dharma dan Tigor masih belum puas dengan hasil rapat ghibah plus pertaruhan tadi karena ditutup sebelum beberapa hal ia rasa clear.

“Gor, ngerasa aneh nggak sih?”

“Aneh gimana?”

“Elok kalau sampai beneran dia sama Aco parah sih. Kamu ngerti kan maksudku?” Dharma yang merupakan kawan lama Gardana  masih belum terima dengan kemungkinan itu. Tigor mengangguk.

“Tipe Elok juga biasanya yang alim, baik, kalem.”

“Maksudmu Rumi?”

“Ya setipe Rumi. Sedangkan Aco?” Walaupun sebenarnya yang Dharma maksud adalah Gardana. Dharma melihat ke arah Tigor, mereka seolah berada di pemikiran yang sama. Bukan rahasia lagi, sebelum Elok menginjakkan kaki di kota ini, tersiar kabar bahwa Elok pernah dekat dengan Rumi. Entah darimana kabarnya.

“Ya kan?”

“Iya juga sih.” Tigor setuju dengan isi kepala Dharma yang bahkan tak perlu ia ungkapkan dengan kata-kata.

*

 

Di sisi lain di dalam office, beberapa ibu-ibu sedang berkumpul di depan sebuah meja yang di atasnya bercokol sebuah nampan berisi buah-buahan dan sambal rujak. Sulit dihindari, itu situasi paling menarik ghibah lain yang tentu saja versi ibu-ibu.

“Korban selanjutnya nggak sih?” Emma dengan antusias.

“Setelah gagal dapetin kamu kan?” Jeni menyahut sembari mengunyah mangga muda di mulutnya.

“Kamu sempat juga ma?” Safira bertanya kaget.

“Dipepet terus, sampai jijik sendiri.” Emma memperlihatkan ekspresi geli.

“Sama aku juga gitu.” Safira menambahkan. Jeni dan Emma kompak melihat ke arah Safira.

“Iya, beneran. Ngechat gombal-gombal dan sekalian saja kuberitahu Mas Juan.”

“Gila ya, padahal Mas Juan kan bosnya.” Jeni menggeleng-geleng.

“Nah itu dia. Memang agak sakit sih kayaknya.” Nona pun spontan mengalihkan ingatannya beberapa waktu silam saat Aco juga merayunya dengan modus serupa. Beruntungnya saat itu ia gesit memberitahu Dharma dan langsung dibentengi kekasihnya itu dengan berbagai macam petuah-petuah dan nasihat yang akhirnya membuat Nona tak perlu membuang banyak tenaga meladeni sikap sok kecakepannya Aco.

“Aku jamin Elok bakal ditinggal kok.”

“Iya, paling juga Aco cuma coba-coba.”

“Elok bilang dia punya pacar kok. Memang sama-sama aneh sih kayaknya.”

“Ya cocok sudah.” Yang satu main-main, yang satu pun sama.

“Biarin lah, nanti juga kena batunya.”

 

**

            Udara panas hari itu dilawan dengan semangkuk pisang  ijo dan seporsi coto plus iga bakar di sebuah warung makan. Sepanjang turun dari angkot, Aco enggan melepaskan genggamannya dari tangan Elok. Satu hal yang paling Elok suka adalah ini, sentuhan. Ia merasa ketika kekasihnya melakukannya di tempat umum menandakan ada sebuah deklarasi bahwa perempuan ini adalah milikku dan bagi Elok itu penting.

“Suka?” Aco mendapati Elok senyum-senyum sendiri saat Aco semakin kuat memegang tangannya. Elok mengangguk merespon itu.

“Sesuka itu sama aku?” Elok kembali mengangguk. Aco tersenyum lebar seolah menikmati jawaban-jawaban Elok.

“Aku nggak pernah kenal perempuan seceria kamu.” Itu yang meluncur dari mulut Aco kala itu.

*

Kabar kepergian mereka berdua tersiar cepat hingga sampai ke telinga Ratih, entah darimana asalnya. Yang jelas kebersamaan Aco dengan perempuan lain sebelum mereka benar-benar berpisah membawa awan hitam bahkah petir bagi Ratih.

“Nggak bisa banget ya kamu tunggu sebentar lagi?”

“Kenapa harus kamu pamer-pamerin di depan orang lain?”

“Agustus itu nggak lama.”

Berkali-kali Ratih mencoba menghubungi Aco, namun tak jua ia mendapat jawaban. Ketika kekesalan membuncah, keluarlah kalimat-kalimat tidak perlu yang bertujuan menyakiti hati Aco.

“Aku nyesel transferin kamu uang, aku pikir niatmu pergi untuk keluargamu, tapi malah sama cewek lain. Kamu seniat itu ya mau langsung move on?”

Tak jua pesan itu mendapat tanggapan, sementara Ratih menangis sejadi-jadinya. Ada ego yang terlukai, ego harusnya ia yang move on terlebih dahulu, karena ia yang lebih siap dengan perpisahan ini.

Saat sudah kelelahan menangis, Ratih tertidur dengan mata sembab. Ia tiba-tiba terbangun dengan nada pesan yang memang sengaja ia setting cukup nyaring. Pesan dari Aco.

“Nggak kok, dia cuma mau bareng aja kesini. Bukan siapa-siapa. Dusta yang sedikit menenangkan Ratih.

**

Bersama dengan sanak keluarga, Nurdin datang mengunjungi Ratih malam itu. Membawakan sebuah tiket dan bukti pemesanan travel agent, ia dengan sumringah menyampaikan tempat bulan madu mereka. Menceritakan rinci tempat tujuan hingga hal-hal seru yang bisa mereka habiskan. Ratih yang tengah menunggu telpon dari Aco menanggapi Nurdin dengan seadanya. Ia tak begitu antusias. Pikirannya terbagi di tempat lain.

“Kamu sehat kan?”

“Sehat, cuma agak ngantuk.”

“Mau istirahat sekarang?”

“Boleh?”

“Istirahat saja.” Nurdin beranjak dari teras dan membaur dengan keluarga lainnya di ruang tengah. Ratih bergegas ke kamar sebelum keluarga lain mencegatnya dengan banyak pertanyaan. Sayangnya, Fitri ada disana. Perempuan itu mengekori Ratih ke kamarnya dan berusaha membaca situasi.

“Sampai kapan de?”

“Kamu sudah mau menikah.”

“Masih mau ingat-ingat si kampret itu?”

Ratih menggeleng, tatapannya kosong, ia merebahkan diri sebelum matanya memanas dan menangis. Ia menangisi entah apa. Hatinya sedih, terlebih melihat Nurdin yang berlaku teramat baik. Sedang dalam kepalanya masihlah menyimpan Aco, Aco, Aco yang tak pernah melakukan apapun saat ia akan dijodohkan.

"Kenapa dia nggak mau sedikit berusaha kak?”

 

 

 

 

Senin, 31 Maret 2025

12

 

Membelah jalanan yang dikelilingi hutan Gunung Kasturi, Elok dan Aco tak hentinya berbagi dekap, berbagi cerita, hingga jokes receh yang mempertemukan tawa mereka di udara. Bolos dan menempuh perjalanan jauh berdua, setelah jadian kurang dari sebulan memang hal paling berani yang mereka lakukan. Udara malam yang dingin, ditambah AC bus membuat mereka tak henti saling berbagi dekap. Saat tengah malam, Elok mengeluhkan kakinya yang beku, kedinginan. Aco dengan sigap menggamit gulungan sepasang kaos kaki perempuan berwarna putih dengan sentuhan sedikit pink di bagian tungkai yang membuat Elok sedikit bertanya.

            ”Punya siapa?” Karena bisa dipastikan ini bekas pakai.

            ”Punyaku, salah beli.” Aco menjawab santai sambil memakaikan kaos kaki itu di kaki Elok. Elok enggan membahasnya lagi, walaupun ia cenderung tidaklah percaya. Sembari Aco memasangkan kaos kaki, Elok melihat wajahnya samar-samar dari pantulan lampu-lampu jalan yang mereka lewati yang berhasil merangsek masuk ke dalam bus. Elok menyadari, sulit tidak merasa bahagia di saat-saat seperti itu. Aco terlalu memperlakukannya dengan baik.

            Banyak mengobrol membuat mereka sukar menghindari topik-topik sensitif. Mantan pacar, masa lalu, alasan gagal di hubungan sebelumnya, kadar perasaan, masih sayang dan tidak, keluarga, aib, dan lain-lain. Semua dengan leluasa dibahas tanpa batasan apapun dan tetap merasa nyaman. Hingga, satu hal yang membuat mood Elok berubah.

            ”Aku pergi kali ini pinjam uang Ratih.” Elok terdiam saat Aco mengatakan itu, ia kesal bukan main karena dari cerita Aco sebelum ini, Ratih adalah mantan kekasihnya. Namun, anehnya hanya sesaat Elok terganggu dengan cerita itu. Dalam sekejap, ia bisa kembali mengembalikan mood seperti di awal, dan memaksakan diri agar tidak lagi merasa terganggu, menikmati perjalanan hingga tertidur.

            ”Kacang, aqua, mijon, kacang, aqua, mijon.” Elok terbangun saat mendengar dan merasakan seseorang meletakkan sebungkus kacang dan minuman kemasan di kursinya. Ia langsung mencari-cari dimana Aco, namun tak kunjung menemukan tanda-tanda dimana lelaki itu. Sekeliling sudah ramai dengan orang-orang yang silih berganti masuk ke dalam bus berjualan segala macam makanan. Dari kacang-kacangan hingga nasi bungkus, dari minuman kemasan hingga es plastikan. Di luar bus juga tak kalah ramai, para penumpang bus mulai berhamburan turun dan tersebar ke toilet, warung, mushola, dan beberapa bersantai di depan deretan bus sekadar untuk mengobrol atau merokok. Elok memutuskan turun dari bus dan mencari Aco.

            Masih dengan kesadaran yang belum begitu sempurna, Elok meninggalkan bus berharap tidak begitu sulit menemukan Aco. Benar saja, dari kejauhan tampak lelaki dengan tubuh tinggi tengah memecah kerumunan. Pada dini hari Aco masihlah seseorang yang terlihat menarik di mata Elok. Dengan T-shirt berwarna putih bergambar Nirvana, celana denim dengan sobekkan di bagian lutut, sneakers berwarna navy, dan wajah yang tampak lebih cerah dibanding manusia-manusia lain yang Elok lihat saat itu, membuat Elok tak sanggup menahan senyum dan perasaan berdebar yang sulit ia kendalikan. Jatuh cinta.

            ”Mau kemana?” Suara Aco terdengar parau, mungkin karena udara malam. Senyum simpul yang tersungging, dan telapak tangan yang dengan cepat mendarat di kepala Elok, membuat gadis itu tak punya banyak persiapan untuk menghadapi kondisi. Jantungnya nyaris copot, hatinya menghangat sekaligus berdebar, perutnya melilit, dan respon terhadap semua kondisi itu jelas menjadi di luar pikiran Elok. Elok tak canggung memeluk Aco, ini seakan reaksi paling natural yang seharusnya terjadi saat itu. Aco pun membalas pelukan itu dengan dekap yang sama.

”Tak ada dingin, tak ada orang lain, waktu sedang dibekukan oleh wanita paling bahagia di muka bumi, Aku.” – Elok.

**

Berlari dari kenyataan, menarik kembali sebuah keputusan, kembali pada masa paling indah sekaligus menyengsarakan, apa mungkin? Bahkan pilihan menjadi sengsara pun masih tak tampak menakutkan dibanding pernikahan ini.

Malam itu satu malam penuh Ratih tak bisa menghubungi Aco. Kekasih yang sebentar lagi akan menjadi mantan itu seharusnya memang masih dalam genggamannya. Mereka belum putus bahkan ketika pernikahannya dengan Nurdin, lelaki pilihan orang tuanya itu tinggal menghitung hari. Ratih seperti tidak pernah rela melepaskan Aco yang sudah lebih dari 4 tahun menemaninya.

“Halo mas, Aco ada di kamarnya nggak? Soalnya kutelpon nggak bisa.” Ratih memberanikan diri menghubungi Daniel, teman sekost Aco yang jadi satu-satunya orang yang Ratih kenal. Lama perempuan itu menunggu balasan Daniel, namun yang ia dapat jawaban yang tak sesuai harapannya. Ia merasa seperti dilupakan, padahal seharusnya ia yang melakukan itu lebih dahulu. Khawatir, hanyalah alasan yang paling mungkin ia pakai dibanding alasan curiga dan yang lainnya. Ratih gelisah sepanjang malam hingga beberapa hari kemudian, Aco benar-benar menghilang padahal sebelum itu Aco memintanya untuk mentransfer sejumlah uang.

Lamaran, foto prawedding, mengurus berkas ke KUA, persiapan gedung, katering, dekor, MUA, dokumentasi, seragam keluarga, tak mampu menyita pikiran Ratih seberat saat ia memikirkan Aco. Perasaan mereka berdua memang terlalu dalam, terlalu jauh, dan seharusnya, setidaknya bagi Ratih, tak mampu dipisahkan siapapun. Sayangnya, keadaan berkata berbeda.

Dalam kegelisahan, Ratih yang dalam hatinya pun diliputi rasa marah mulai mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain. Hal yang tetap membawanya pada ingatan tentang Aco, namun setidaknya tidak perlu memaksanya untuk terus menunggu kabar lelaki itu dengan putus asa. Ratih memusatkan emosinya dalam kepala, menatanya sedemikian rupa, dan mulai membuka folder “Personal” dalam laptopnya.

*

LDR, sebuah konsep hubungan yang sulit meyakinkan siapapun termasuk keluarga Ratih.

“Cari yang lain saja.”

“Yang pasti-pasti saja.”

“Yang serius saja.”

Saja-saja lainnya yang membuat Ratih tersudut dan akhirnya mengiyakan saat ia harus diperkenalkan dengan Nurdin. Yang memang tidak begitu dengan paksaan, logika-logika sederhana yang jika dipikirkan ulang tidaklah salah. Aco tak mungkin bisa serius, sedangkan usia Ratih sudah menuju 25 tahun, usia yang dalam keluarga Ratih dinilai sangat terlambat jika belum menikah.

Pertemuan pertamanya dengan Nurdin ditemani Fitri, kakak ipar Ratih yang mengenal Nurdin saat berbisnis di Johor. Jadilah, ketika Nurdin datang ke Makasar, Fitri mengatur segala macam hal agar keduanya bisa berkenalan. Sebuah restaurant di sebuah hotel di pusat kota Makasar menjadi pilihan Fitri.

Dengan cowl neck dress berwarna army dan rambut lurus yang dibiarkan tergerai, Ratih berjalan penuh percaya diri dengan stiletto berwarna hitam ditemani Fitri yang hanya mengantarkannya hingga loby hotel.

Saat melenggang menuju meja, Ratih sudah terfokus pada lelaki berjenggot tipis yang mengenakan tailored suit berwarna grey dan rambut tersisir rapi di sudut ruangan. Setelah berjarak sekitar 5 meter, lelaki itu berdiri dan melambaikan tangan pada Ratih.

“Hai.” Keduanya bersalaman dan Nurdin mempersilakan Ratih duduk. Malam itu menjadi malam yang membuat Ratih berpikir, mungkin perjodohan ini tidaklah terlalu buruk. Setelah malam itu, Ratih mulai membuka diri pada Nurdin dan seolah tidak pernah keberatan jika mereka melangkah ke hubungan yang lebih serius. Pikiran yang semakin menuju hari H, semakin ingin ia anulir. Ratih benci keputusannya.

 

 

Minggu, 30 Maret 2025

11

 

            SMPN 1 Kuala Timur, sekolah yang dipilih Elok. Setelah banyak teman yang lain memilih masuk pesantren, MTs ataupun sekolah islam lainnya. Elok tetap teguh pendirian ingin masuk SMP. Saat itu alasan Elok karena ekskul klub buku, tidak lebih dari itu. Perdebatan cukup sengit dengan Mahesh terjadi, ia ingin adiknya banyak belajar agama, tetapi Ajeng justru lebih santai.

            ”Ya biarkan lah bang, itu pilihannya.” Ajeng meyakinkan anaknya.

            ”Ibu nggak pengen anak ibu berilmu?” Mahesh emosi.

            ”Pengen, tapi nggak harus masuk pesantren.” Ajeng menjawab lembut.

            ”Ibu mau waktunya habis untuk ekskul nggak jelas itu?” Mahesh semakin keras.

            ”Kok nggak jelas? Itu justru kumpulan anak-anak pinter bang.” Elok menjawab.

            ”Kamu nggak tau disana nggak ada filterring tema bacaan? Ada buku dewasa juga dan kamu mau ikut? Nggak bisa. Kalaupun kamu masuk SMP, abang nggak izinin kamu ikut klub buku.” Pendapat paling konyol dari Mahesh yang membuat Elok ilfil. Dari sana Elok merasa sudut pandang abangnya dalam melihat sesuatu teramat sempit. Wajar jika ia sangat yakin memilih Ranu sebagai istri, karena ya memang abangnya itu tidak bisa berpikir lebih jernih.

            Elok meninggalkan perdebatan konyol itu dan masuk kamar, ia lebih memilih menyudahi itu, walaupun dalam hatinya tetap yakin akan melawan abangnya, apapun kondisinya. Ajeng mengekori Elok, ia mengetuk pintu kamar lalu masuk sebelum Elok sempat menjawab.

            ”Nggak apa-apa kalau memang kamu sudah yakin, ibu dukung.” Ajeng hanya mengucapkan itu lalu pamit. Elok menangis sejadi-jadinya, ia menahan tangis itu sejak berhadapan dengan Mahesh. Lalu tumpah ruah saat ia sendirian.

 

**

 

            Memasuki masa orientasi siswa, Elok sudah mulai mendapat kawan, salah satunya Abigail. Elok dan Abigail menjadi satu kelompok saat itu, mereka diberi tugas untuk membuat presentasi terkait pengenalan sekolah sesuai hasil orientasi beberapa hari terakhir. Dari sana Elok melihat, bahwa Abigail orang yang cerdas. Gadis berambut panjang itu pintar mengambil sisi menarik dari suatu hal, dan lebih menariknya lagi ia pandai menggambar dan komputer. Saat itu, tidak banyak anak-anak yang dengan mahir mengoperasikan komputer. Abigail mungkin 1 dari 10. Tugas setiap orang dibagi, dan Elok menerima bagian presentasi, Abigail yang menyiapkan apa saja yang perlu ditampilkan, sedang kawan lainnya membantu mengumpulkan materi. Disanalah terlihat Abigail tampak sebagai pemimpin, sangat dominan. Gadis itu pun cukup cerdas membagi tugas dan menentukan pemain. Elok tercengang dengan apa yang dilihatnya, betapa seorang anak 12 tahun bisa sedemikian lincah dan tahu apa yang harus dilakukan.

            ”Dari SD mana?” Saat jam makan siang, setelah presentasi usai, Elok berkesempatan mengobrol dengan gadis itu. Rasa penasarannya dengan sekolah asal Abigail karena seragam Sdnya berbeda dengan kawan-kawan yang lain.

            ”SD Seberang Laut 4.” Jawab Abigail. Elok memutar otak, mengingat-ingat tempat yang disebutkan Abigail, ia merasa familiar tetapi ia lupa dimana letak pastinya sekolah itu.

            ”Kalau dari sini harus nyeberang 4 jam pakai speed boat.” Abigail menambahkan. Ia sadar Elok terlihat bingung.

            ”Disana nggak ada SMP?” Elok penasaran.

            ”Ada, tapi abah pindah tugas kesini.” Jawab Abigail.

            ”Kerja dimana?”

            ”Kebun sawit.”

            Setelah jawaban itu, Elok tak lagi bertanya lebih jauh. Ia hanya masih belum bisa menghubungkan antara nama Abigail, wajah, kecerdasan, talenta, dan tempat asal ia tinggal. Semua seakan tidaklah matching. Seberang laut, desa terpencil yang bahkan Elok selalu yakin belum ada internet disana. Sangat kontras dengan Abigail yang cenderung memiliki pola pikir modern dan lebih unggul darinya.

 

**

 

            Memasuki tahun pertama di SMP, Elok cepat beradaptasi. Ia ada di kelas yang cukup beragam siswa-siswinya. Dari kutu buku hingga anak ternakal. Dari yang rapi hingga yang awut-awutan. Sayangnya, ia tidak sekelas dengan Abigail. Elok secara tak sengaja duduk dengan Hanum, salah satu perempuan pendiam di kelas. Walaupun duduk berdekatan, Elok dan Hanum jarang berbicara. Mereka hanya saling bantu saat pelajaran agama yang diminta menghafal surah pendek, mau tidak mau Hanum meminta bantuan Elok untuk memastikan bacaannya benar. Selain pelajaran itu, mereka nyaris seperti orang asing, atau teman yang tidak akur, diam-diaman. Selama setahun sekelas, mereka mulai akrab menjelang kenaikan kelas. Mereka belajar bersama sebelum ujian.

            Saat kelas 2, kelas mulai dikelompokkan berdasarkan ranking. 30 besar 1 angkatan dikumpulkan menjadi 1 kelas unggulan. Elok kembali bersama Hanum, dan mereka pun sekelas dengan Abigail. Dari sanalah mereka bertiga menjadi akrab. Walaupun memilih ekskul yang berbeda. Abigail yang gemar ikut klub badminton, Hanum yang lebih senang ikut PMR, sedang Elok masih kecewa klub buku tiba-tiba bubar di tahun kedua ia di SMP. Kata Bu Lastri, karena kurang peminat. Akhirnya Elok bergabung di ekskul yang tak ia pahami, Pramuka. Dari sana Elok seringkali menjadi bulan-bulanan oleh Hanum dan Abigail, mereka merasa ini cukup kocak melihat betapa semangatnya Elok menceritakan klub buku itu.

            Elok hampir setiap hari ke perpustakaan, ia punya target membaca 2 hingga 4 buku seminggu, khusus sebagai bekal saat hadir di klub buku. Elok sangat tertarik dengan novel dan puisi, di klub itu ia seperti bertemu keluarga baru yang satu frekuensi dengannya, walaupun memang banyak dari peserta berasal dari kelas XII yang saat mereka lulus, 90% peserta klub buku berkurang, alhasil klub itu dibubarkan. Elok heran, mengapa tak ada peserta didik baru yang mau masuk klub itu. Selebaran gencar dibagikan ke kelas-kelas, pemberitahuan pendaftaran ada di mading sekolah, usai masa orientasi pun kegiatan itu dipromosikan oleh Bu Lastri, tetapi tak cukup untuk menarik minat. Apa yang salah? Ia yang sering diledek Hanum dan Abigail kali ini lebih sering menghindar. Ia memilih jam kosong dan jam istirahat untuk pergi ke perpustakaan, kali ini bukan untuk membaca, tetapi hanya ingin melamun saja. Banyak yang ia pikirkan hingga jika orang lain melihatnya akan terasa seperti orang yang tengah punya masalah hidup berat dan tak terselesaikan.

            ”El, sudah bel.” Bu Rohana penjaga perpustakaan mengingatkan Elok tentang bel masuk. Elok dengan langkah berat berdiri dan keluar menuju kelas. Ia masih berpikir keras, bagaimana caranya agar klub buku bisa kembali. Tetapi tak jua ia menemukan solusi. Ia hanya merasa malas saat menyadari bahwa jumat depan ia sudah harus mulai masuk kegiatan pramuka, dan itu tidaklah menyenangkan. Ia membayangkan harus baris-berbaris, upacara, belajar sandi-sandi, simpul-simpul, yang di kepalanya itu adalah pelajaran sia-sia, tak ada guna. Belum lagi jika ia harus terpaksa ikut berkemah. Rasanya seakan semua ini bukan yang ia inginkan. Ia menyesal seribu kali memilih ini, tetapi pilihan yang lain pun tak ada yang membuatnya tertarik. Elok benar-benar merasa pasrah, kehidupan tak menarik di kelas baru segera dimulai.

Selasa, 25 Maret 2025

10

 

            Di Kuala Timur, kisah cinta Mahesh dan Ranu seperti cerita rakyat, negeri dongeng, indah sekali. Mereka bertetangga dari kecil. Ayah Ranu adalah seorang bankir, ibunya pegawai negeri. Ranu lebih sering bersama pengasuhnya, Ajeng, yang kini jadi ibu mertuanya. Maka tak heran sedari kecil Ranu dan Mahesh saling kenal. Mereka bahkan selalu sekelas dari TK hingga SMA. Ranu yang cengeng, Mahesh yang gemar berkelahi, pasangan serasi kala itu. Bahkan seekor semut pun tak diizinkannya untuk menggigit Ranu. Mahesh sangat protektif. Begitulah yang tersiar di kampung Kuala Timur.

            Saat masih kecil, ayah dan ibu Ranu meninggal karena kecelakaan, jadilah Ranu tinggal dan menetap dengan neneknya di kampung Kuala Barat, yang hanya berjarak sekitar 15 KM. Senin hingga sabtu, Mahesh bersama dengan Ranu di sekolah, lalu di hari minggu Mahesh apel di rumah nenek Ranu hingga seharian. Itu terjadi bertahun-tahun hingga saat lulus SMA Ranu dan Mahesh sempat berencana langsung dinikahkan, tetapi Ajeng menolak. Bukan karena tidak setuju dengan Ranu, tetapi ia merasa terlalu muda jika Mahesh ingin menikah di usia itu. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Mahesh bisa lulus dan setelah itu baru menikah. Ranu yang sudah lulus S1 dilarang Mahesh bekerja dan dipaksa menjadi ibu rumah tangga. Begitulah kehidupan mereka yang baik-baik saja hingga Mahesh tak ada.

            ”Ya agak nyesel buk. Tapi sudah terjadi.” Ranu seringkali bercerita ke Ajeng bahwa ia menyesal memutuskan tidak bekerja saat itu. Sekarang ia kesulitan mencari pekerjaan kantoran di usianya yang tidak lagi muda dan sudah beranak 2.

            ”Semoga nanti dikasih jalan.” Ajeng mengelus kepala Ranu, wanita setengah baya itu memang benar-benar menyayangi anak menantunya yang ia asuh sedari kecil itu.

            Setelah ditinggal Mahesh, belahan jiwanya, Ranu seperti menjadi orang yang berbeda. Ia jarang bicara, mengurangi interaksi dengan tetangga, memilih pasar yang jauh untuk sekadar beli sayuran dan lauk-pauk, punya rutinitas baru di luar yang entah dengan siapa, ia hanya bilang bahwa sedang berkumpul dengan teman-teman SMA, lalu tak jarang ia menginap di luar. Kebiasaan Ranu itu tidaklah mengganggu bagi Ajeng, Ajeng merasa wajar jika Ranu perlu waktu untuk melupakan Mahesh, wajar jika Ranu perlu berkawan agar tidak terpuruk di rumah, Ajeng selalu mengizinkan. Malah justru Elok yang cerewet, ia bertanya-tanya apa yang dilakukan kakak iparnya itu hingga menginap? Tetapi, Ajeng selalu punya jawaban yang akhirnya membuat Elok tak bisa marah lebih jauh.

            Pernah di satu malam, Ranu tak kunjung pulang, tetapi juga tidak memberi kabar. Ajeng tidak tidur, ia menunggu. Kedua anak Ranu pun turut gelisah, mereka terbangun berkali-kali hingga Ajeng semakin risau. Dengan perasaan yang menyiksa itu, Ajeng menghubungi Elok, berharap ada Elok yang bisa membuatnya lebih tenang atau sekadar meyakinkannya bahwa nanti juga Ranu akan pulang. Namun sayang, Elok justru semakin marah. Ia kesal dengan Ranu yang bahkan sedari dulu mncuri kasih sayang Ajeng darinya. Tetapi Ranu seperti tidak tahu diri.

            ”Jangan terlalu dimanja!” Elok meninggikan suaranya.

            ”Bukan manjain, ibu kan cuma kasih ruang to.” Ajeng berkilah.

            ”Kasih ruang kasih ruang, tunggu aja sampai dia bikin malu keluarga. Mana ada orang yang kerjaannya nginep di luar nggak ada kabar? Nggak ada bu.” Elok semakin kesal.

            ”Siapa tahu dia memang ada keperluan.” Ajeng masih membela Ranu.

            ”Keperluan apa malem-malem bu? Ya sudah kalua ibu memang seneng dibohongin sama Mbak Ranu, terserah.” Elok menutup teleponnya. Malam itu hingga matahari muncul, tak jua ada kabar dari Ranu, pun tak jua perempuan itu kembali. Hingga di hari ketiga barulah Ranu kembali dengan alasan klasik. Bantu acara di rumah teman SMA, yang entah siapa orang itu. Ajeng tak kenal. Seumur hidup Ranu bersama Ajeng, tetapi bari kali ini Ajeng merasa jauh sekali dengan Ranu. Gadis kecil yang selalu ia sayangi itu.

            Sejah dahulu, Ranu seperti anak emas Ajeng. Apapun yang Ranu inginkan, Ajeng selalu berusaha mewujudkan itu. Walaupun Ranu masih punya nenek, tetapi Ajeng merasa ia punya tanggung jawab untuk memastikan kebahagiaan gadis itu, dan itu yang membuat Elok geram. Pernah satu waktu, Ranu bercerita pada Ajeng bahwa motor yang ia bawa ke kampus sering mogok, dengan keadaan Ajeng yang terbatas ia berusaha meminjamkan motornya kepada Ranu, yang akhirnya membuatnya kerepotan sendiri. Ranu memang menolak, tetapi itu semakin membuat Ajeng merasa perlu meyakinkan gadis itu bahwa ia harus membantu. Ranu juga seringkali datang ke rumah hanya untuk bercerita tentang perkelahiannya dengan Mas Mahesh, dan sudah tentu Ajeng membelanya. Ranu sering bilang bahwa Elok tidak senang dengannya, lalu Ajeng marah dan menasehati Elok dengan keras. Pokoknya jika diurutkan anak kesayangan di rumah itu, Ranu lah posisi pertama. Maka dari itu, Elok sangat senang saat tahu bahwa kakaknya dilarang menikah dengan Ranu di awal-awal kelulusan SMA, ia berharap itu bisa membuat mereka berdua putus dan Ranu menjauh dari keluarganya. Tetapi sayangnya kegembiraan itu tidak bertahan lama, hanya dengan waktu 4 tahun, harapan Elok itu luluh lantak, hancur berkeping-keping.

            Ketidaksukaan Elok bukan hanya karena pilih kasihnya Ajeng ke Ranu, ia pernah beberapa kali menjumpai kakak iparnya itu berperilaku janggal. Di balik sifatnya yang berbicara lemah-lembut, Elok meyakini ada sisi lain Ranu yang berisi setan, jelmaan iblis, dan penemu kesurupan. Apapun itu, Elok ingin sekali berteriak.

            ”Mbak Ranu nggak sebaik itu buuuuuuuuuu!” Tetapi ia urung mengatakan itu karena sudah tentu akan sia-sia.

 

**

 

            Cerita tentang Ranu sudah seperti agenda harian antara Elok dan Aco. Elok mendongengkan nama Ranu berkali-kali dalam sehari hingga Aco hapal. Lelaki itu bahkan bisa membayangkan Ranu di kepalanya. Elok sangat amat jelas mendeskripsikan perempuan itu, dan sudah pasti isinya kuranglah baik.

            ”Jangan su’udzon.” Aco menasihati.

            ”Kamu nggak tau sih, coba kamu ketemu langsung pasti kesel.” Elok merengut.

            ”Kalian kurang komunikasi aja itu.” Aco masih berusaha.

            ”Ngapain?” Suara Elok meninggi.

            ”Habisnya kamu kalau ceritain dia menggebu-gebu banget yang, habis energimu membenci orang.” Aco terus berusaha.

            ”Ya wajar lah, dia keterlaluan. Dia nggak menghargai ibu.” Elok seperti melakukan closing statement. Ia memberikan penekanan di kalimat terakhir. Aco menyerah setelah itu, ia pun takut hubungannya memburuk karena ini.

            Tetapi di lain kesempatan terus saja mereka berdua berdebat terkait Ranu, tak ada habisnya. Elok sangat piawai membenci, sedang Aco merasa itu berlebihan. Sampai-sampai Aco merasa lebih mudah menasihati orang yang tengah jatuh cinta atau pendukung capres, dibanding menasihati Elok. Elok benar-benar seperti batu.

 

Senin, 17 Maret 2025

9

 

            Aco di mata Elok seperti lelaki sempurna yang tak ada celahnya, kekurangannya pun bagi Elok tetap membuatnya suka. Elok yang dimabuk cinta itu menghabiskan hampir seluruh waktunya kecuali mandi dan tidur, untuk memikirkan atau bertemu Aco. Aco ada dalam semua hal yang ingin ia lakukan sepanjang hari. Dari bangun tidur hingga kembali tidur, Elok tak luput merawat Aco dalam kepalanya. Hanya ada Aco, titik. Ia bisa bersuka walaupun kiriman uang ke orang rumah harus lebih banyak bulan ini, tak masalah. Elok bisa menghadapi dunia ini dengan uang pas-pasan, asalkan ada Aco di dalamnya. Ia seringkali melamun sendirian, dan kemudian tertawa kegirangan, tak berselang lama ia bisa menangis terharu, ia lalu bertanya pada dirinya sendiri, apa ia memang benar-benar sebahagia itu? Aco seperti menyodorkan buku kosong ke kehidupan Elok, membuat Elok dengan sukarela mengisinya dengan berjuta puisi, Elok jatuh cinta.

            Sejak kecil Elok terbiasa menulis buku harian, ia senang menyisihkan uang jajannya untuk sebuah buku atau binder yang bisa ia isi cerita-cerita sehari-hari atau tempat ia berkeluh kesah. Elok senang menulis, bahkan ia ingin jadi penulis.

            Saat itu di tahun 2004, perpisahan kakak kelas 6. Elok diminta Pak Pram untuk membacakan puisi dari adik kelas yang ditinggalkan. Pak Pram memanggil Elok ke ruang guru.

            ”Kamu salin ini ya, nanti bacakan di hari H.” Pak Pram menunjuk 1 halaman puisi yang akan dibawakan Elok. Elok mengangguk patuh, dan membawa buku itu ke kelas untuk disalin. Sebelum sempat menyalin, Elok membuka halaman lain di buku itu. Buku yang sepertinya tidak muda lagi. September 1993, 11 tahun lalu. Mata Elok berbinar-binar melihat buku itu. Ia takjub dengan bagaimana Pak Pram menuliskan setiap lembar demi lembar. Buku itu bukanlah buku catatan biasa, di dalamnya seperti sepaket surat cinta untuk seseorang, isinya amat puitis. Elok yang masih 10 tahun pun bahkan tahu ini bukan hanya ditulis dengan pena, tetapi juga sepenuh hati, dalam sekali.

            Yuni, nama yang beberapa kali muncul di buku itu. Elok menduga Yuni adalah mantan kekasih Pak Pram, karena istri Pak Pram bernama Siti. Elok terbayang bagaimana tragisnya kisah cinta Pak Pram jika benar demikian. Saat ia masih terpaku pada beberapa lembar halamannya, Pak Pram masuk ke kelas dan memulai pelajaran. Setelah pelajaran usai, Pak Pram meminta Elok menyelesaikan salinannya dan membawa kembali buku itu. Elok sedikit kecewa, ia masih ingin membaca lembar demi lembar di buku itu lebih lama.

 

**

 

            Tahun berikutnya, saat perpisahan Elok, ia menawarkan diri kepada Pak Pram untuk membacakan puisi perpisahan, puisi dari kakak kelas yang meninggalkan sekolah, Pak Pram mengiyakan. Sebelum hari latihan, Elok sudah berdebar membayangkan ia akan bertemu kembali dengan buku Pak Pram, buku yang sudah membuat ia tak tenang setahun terakhir, bisa-bisa ia mati penasaran sebelum sempat membaca semua isi yang ada di buku itu. Saat tiba di sekolah, Elok sudah langsung berinisiatif mendatangi Pak Pram di ruang guru. Saat Elok tiba, Pak Pram sudah siap dengan buku di atas meja. Elok bersorak dalam hati.

            ”Mau ambil puisi pak.”

            ”Oh iya.” Pak Pram berdiri, berjalan ke arah mesin fotokopi, mengambil selembar kertas dan menyerahkan ke Elok.

            ”Ini ya, kamu bawa aja, biar ada banyak waktu menghafal.” Kata Pak Pram. Elok kecewa, tubuhnya terkulai, ia mendadak sulit bernafas, penantiannya selama setahun sia-sia, pupus. Sejak saat itu Elok bertekad, ia ingin menulis bukunya sendiri, ia ingin menulis tentang seseorang dengan romantis, sebagaimana Pak Pram menulis tentang Yuni.

Nama Aco seperti tokoh dongeng yang hampir setiap halaman muncul dalam buku harian Elok. Seperti ingin jatuh cinta selamanya, Elok mempersiapkan banyak hal untuk mengabadikan Aco dalam sejarahnya. Ia ingin menciptakan Yuni yang lain dalam bukunya sendiri. Ia ingin kelak ada yang membaca buku itu, menjadi saksi bagaimana seorang manusia bisa merasa sedemikian berbunga.

 

**

 

Balikpapan, 23 May 2014.

 

Aku merenung sambil membuka jendela kamar, kubiarkan angin kecil yang hangat menyapu wajahku. Kupikirkan bagaimana aku bisa seberuntung ini. Apa yang sudah pernah kulakukan di masa lalu hingga Tuhan dengan berbaik hati menghadiahkan kamu?

 

            Elok hanyut dalam tulisannya, ia terhenti di kalimat tanya itu. Hatinya menghangat, perutnya terasa mual, jantungnya berdebar seperti hendak berlarian, hingga rasa haru membuat ia menangis. Terus saja itu yang terjadi sepanjang malam usai menulis.

            Pesan masuk ke BBM Elok.

            ”Udah mau tidur?”

            ”Udah, kamu?” Elok membalasnya.

            ”Belum, kamu udah isi botol minum?”

            ”Belum, besok aja.”

            ”Isi sekarang.”

            ”Iya.” Elok berdiri usai membaca pesan itu, ia meraih botol dan keluar hendak menuju dispenser. Kosong. Air habis. Sementara penjaga kost tak terlihat saat itu. Elok berinisiatif keluar untuk membeli air minum.

            Sepulang dari minimarket, Elok melihat sesosok lelaki yang ia kenal berdiri di depan pagar kostnya. Membawa 2 botol air mineral ukuran besar lelaki itu tampak menelpon seseorang. Saat lelaki itu berbalik, Elok langsung tersenyum lebar. Lelaki itu tampak kaget melihat Elok, lalu menyodorkan apa yang ia bawa.

            ”Aku udah beli.” Elok tersipu-sipu sata mengatakan itu.

            ”Pinter.” Aco mengusap-usap kepala Elok.

            ”Aku balik ya.” Aco pamit. Elok mengangguk.

            ”Hati-hati.” Elok merasa berdebar saat itu. Pergerakan Aco seperti di luar perkiraannya. Semua tiba-tiba, tetapi hatinya mudah sekali merasa istimewa.

 

**

 

            Pagi itu suasana kantor sedang ramai. Semua tampak terburu-buru seperti di kejar sesuatu. Elok tak luput dari itu. Beberapa orang sudah memintanya melakukan banyak hal sepagi ini. Ia cukup kewalahan. Sampai akhirnya Bu Santi memintanya meninggalkan pekerjaan lainnya untuk fokus membuat salinan data untuk bahan meeting dengan Chief.

            ”Ini tolong disesuaikan dengan yang kuemail ya.” Bu Santi hanya berpesan itu. Elok lalu sibuk fokus mengerjakan perintah Bu Santi. Ia memilah file-file yang perlu diprint dan difotokopi.

            Saat sudah tiba di depan mesin fotokopi, tiba-tiba ada yang memanggil namanya pelan.

            ”El, El.” Elok menoleh, dan ada Aco disana. Elok tersenyum.

            ”El.” Kini setengah berbisik namun nama Elok terdengar lebih jelas. Elok kembali menoleh. Aco memutar layar laptopnya, dan menunjukkan sebuah tulisan besar di excel.

            I LOVE U

            Elok seketika membalikkan badannya kembali, ia pun melihat sekeliling. Ada perasaan takut orang lain melihat, tetapi juga ingin membaca tulisan itu lebih lama. Ia merasa itu bukan hanya sekadar tulisan. Ia tak hanya membacanya. Ia seperti mengamini tulisan itu, seperti sebuah doa. Aco kembali memanggilnya.

            ”El.” Saat Elok berbalik, Aco sedang menatapnya. Mata bulat lelaki itu tampak berbinar-binar, setengah basah seperti ingin menangis, ada harus dalam tatapan itu, tatapan dalam yang membuat Elok terbang lagi dan lagi.

Antara senang dan malu, Elok menghardik dirinya sendiri. Ia geli dengan apa yang dilakukan kekasihnya itu, tetapi juga senang bukan kepalang. Di tengah kesibukannya pagi ini, ada seseorang yang membuat hatinya berdebar. Ia benar-benar dibuat jatuh cinta setiap hari.

 

Popular Posts