Dalam gerak
memburu
Aku limbung
Kupikir
lekas selalu baik
Hingga kehilangan
kendali
Dalam mode
membisu
Aku linglung
Kupikir
diam selalu baik
Hingga
mereka sesuka hati
Lekas dan
diam
Tak satupun
kuandalkan
Travel & Fiction
Dalam gerak
memburu
Aku limbung
Kupikir
lekas selalu baik
Hingga kehilangan
kendali
Dalam mode
membisu
Aku linglung
Kupikir
diam selalu baik
Hingga
mereka sesuka hati
Lekas dan
diam
Tak satupun
kuandalkan
Kulakukan
yang mereka abaikan
Kuusahakan
semua sedemikian
Tetapi sampai
ke telinga
Aku hanya
pandai bicara
Tidak
terhitung berapa banyak usaha
Dari
berguna hingga sia-sia
Tetapi yang
mereka percaya
Ah, itu
karena beruntung saja
Anehnya pion-pion
itu terus merasa tinggi
Padahal
harganya kami yang beri
Angka yang
masuk ke perutmu itu hasil kami
Mengapa
sulit sekali tahu diri?
Bagaimana
jika kita biarkan gelap terjebak sunyi
Kita bungkam,
riuh hanya menetap di kepala
Yang terdengar
hanya iya-iya saja
Apa tidak
menjadi semakin suram negeri ini?
Satu, dua, sepuluh
dekade mendatang
Akan
ditentukan dari usaha kita hari ini
Terus
teriakkan dengan lantang
Sejahtera
itu hak anak cucu kami
Bertaruh
pada hidup
Bunga-bunga
di kepala dibiarkan redup
Perasaan
baik datang dan pergi
Lalu kembali
lama sekali
Berkawan
dengan gagal
Hingar-bingar
kejayaan tak dikenal
Mencoba
lagi dan lagi
Lalu
bangkit ribuan kali
Semoga
peruntunganku hari ini
Mantraku
setiap pagi
Menerjemahkan
diri
Ingin itu
ingin ini
Desember
resolusi
Diulang Januari
Aku ini
apa? Entah
Kedinginan
di bawah terik
Merasa haus
di tengah hujan
Semua ada,
namun tidak dengan jiwa
Selalu ada
yang belum
Rasanya tak
pernah ada momentum
Sekadar
lewat, tak berarti
Hidup
sekarat, lalu abadi
Semua
membeku
Tidak punya
banyak waktu
Pikiran dan
kaki tangan
Tak pernah
bisa beriringan
Harapan koyak
Angan menjadi
artefak
Asa kian
nihil
Usaha demi
usaha mustahil
Ah
Tak ada pulas,
aku terjaga
Kepalaku berat,
nafasku terbata
Kuhilangkan isi
kepala satu dua
Terus kembali
tiga empat lainnya
Seringkali aku
bertingkah demikian
Menghadapi tidur
yang tak teratur
Memikirkan apakah
ini begadang atau kepagian
Lalu menyesal
kemudian
Banyak yang
terlintas
Masalah lalu
lalang seperti rutinitas
Otakku sibuk
membiarkan mereka saling serang
Apakah memikirkan
ini siang tidak memungkinkan?
Seperti datang
sebagai penumpang
Aku tak punya
kendali
Kupikir hidup ini
mudah menjadi pemenang
Naif sekali
Untukku yang
ambisius
Masaku sudah
terputus
Apa itu juara?
Dua belas
mengajarkan aku rela
Aku mengutuk diri
Apa karena aku
lalai?
Lalu kuhardik
lagi
Kemana larinya
nilai-nilai?
Dalam sedih yang
teramat
Dan kecewa yang
sungguh berat
Aku kali pertama
tahu
Aku tak sehebat
itu
Melihat diri di
delapan belas
Saat kecewa, mimpi-mimpi
tergilas
Nyaman? Tak
jua tiba walau aku memelas
Ini realitas?
Keadaan begitu kejam
Aku dipaksa memendam
Ingin berilmu
saja perlu uang
Sedikitpun tak
tampak peluang
Menyesuaikan diri
Menurunkan
ekspektasi
Enyahlah rasa iri
Apalah itu edukasi
Dalam cerita yang
kudengar & ingat
Aku seperti teman
kecil penghilang penat
Ayahku buruh, ibuku
di rumah berpeluh-peluh
Aku merengek dan
mengaduh, gaduh
Tak ada rumah,
apalagi megah
Tak ada tanah,
apalagi sawah
Tak ada
Cerita demi
cerita tak luput dari sengsara
Aku adalah
harapan besar mereka
Kalau besar mungkin
menjadi pegawai negeri
Bukan seperti
bapak yang buruh tani
Suatu hari
di 2017
Aku menepi
dari rutinitas
Datang kepada
ikan-ikan
Tanpa pelindung
arus pun diterjang
Jika hari
itu aku tenggelam
Disantap
ikan, dihantam karang
Diombang-ambing sampai tak seorangpun menemukan
Kiranya aku
tak keberatan
Sebelum
hari itu aku kewalahan
Jadi tak
hidup pun tetap lumayan
Suatu hari
di 2017
Aku berlari
dari hidup yang naas
Sebelum dua angka
Tak ada
satu, dua, tiga di angka pertama
Aku masih mengira
Dewasa akan
bisa apa saja
Belasan menjadi
penantang
Dua puluhan
menjadi unggulan
Tiga
puluhan menjadi teladan
Empat
puluhan? Sulit kubayangkan
Kupikir hidupku
akan hebat
Yang
indah-indah kuangankan sekelebat
Karena apalagi
yang kupunya?
Mengelukan
harapan dan asa
Hanya itu satu-satunya
cara
Ketakutan
dan mawas diri
Mengapa ini
teramat dekat sekali
Dinding, tak
ada yang bisa membatasi
Dilema,
seperti niscaya, aku terbebani
Gangguan
bukan dari penantang
Aku tampak tenang, namun isi kepalaku berkeliaran
Bajingan, kuhunus
pedang ke pikiran
Kuteriakkan
lantang
“Bubar kau
setan!”
Di dimensi
lain, aku takut jika tidak takut
Apa jadinya
aku jika tak punya kalut
Tertinggal,
percuma, sia-sia
Jangan
sampai itu jadi akhirnya
Mawas diri,
aku ingin terus merawat ini
Setengah
mati
Mati-matian
Mati
Lalu tak
berarti
Yang
kupikir benar akan pudar
Masalah terkadang
membesar
Padam keesokan,
menyala kemudian
Aku kewalahan
terus terang
Tujuan yang
kuimpi
Titik yang
kutiti
Aku berapi-api
Rasanya
setengah mati
Usahaku tak
berkesudahan
Pikiranku
tersita begitu dalam
Kuajak maju
segelintintir
Akhirnya
kami mati-matian
Tampak
suaraku didengar sekian kali
Beberapa
kali lainnya aku tak diamini
Mereka
lihat aku mudah untuk dibenci
Yang
kuperjuangkan terasa mati
Sudah
kuambil duri-duri
Pada
akhirnya tak berarti
Memulai
dari kurang, lalu menjadi sekarang
Harusnya aku
bisa berjalan melenggang
Tak melihat
kemarin, hanya melihat ke depan
Bekas jejak
kaki hanyalah rintisan
Ribuan rintang
menyiksa bergantian
Bisa saja
putus asa, jika tak ingat dendam
Aku harus
bisa membalasnya
Sampai terngiang
namaku di telinga
Dunia ini
jahat seperti mulut para penjilat
Mereka elu-elukan
yang dianggap hebat
Lalu
menyisihkan yang tak berpangkat
Bangsat
Kepadaku si
dua satu
Habis semua
muda berlalu
Menangis
untuk yang tak sebegitu
Bodohnya
aku
Andai bisa
terulang
Ingin
kukejar masa gemilang
Belajar
dasar menjadi pemenang
Bukan
pecundang pengemis si belang
Kukabarkan kepada
dua satu
Jangan bodoh
seperti aku
Terlena
pada yang tak sebegitu
Asu
Belasan
tahun menjadi tawan
Mengakhiri
ini rasanya sungkan
Apa ini benar atau keliru Tuhan?
Aku terlena
tak keruan
Atasku
tampak cemerlang
Bawahku tak
punya masa depan
Aku keliru
jangan-jangan
Bukan itu
mimpiku kawan
Menata
kalimat indah dan sedikit kesah
Perasaan
dibiarkan liar lepas tercurah
Bukan hidup
yang harus sempurna
Panutan ah
aku muak menahannya
Belum usai
penatku terlepas
Aku harus
berlarian terengah-engah
Udara dingin,
halimun utuh
Ini bentuk usaha
atau sekadar patuh?
Menyiapkan jawaban
berisi
Omong
kosong sesekali
Berharap
pengakuan
Di tengah banyak
gempuran
Atas meremehkan,
bawah tak percaya
Duka orang
yang berada di antara
Jika ini
terlewati
Bukankah
aku mejadi sakti
Di balik
meja aku duduk manis menunggu kesempatan
Biarlah
mereka para pemuka dibiarkan bertandang
Dari wajah,
asal-muasal, hingga tinggi badan
Aku tak
masuk kriteria ke medan perang
Saat semua andalan
terlewatkan
Giliranku
menunjukkan keahlian
Kupatahkan label
dan anggapan
Kupastikan
aku bisa bertahan
Jika aku
mati tertembak
Aku akan
hidup kembali dengan hebat
Tak lagi
kubiarkan kesempatan terlewat
Berjuang
hingga nafas tercekat
Kulangkahkan
kakiku menuju mimbar
Kudapati
tak seorangpun bisa kujegal
Mereka bak
pemenang yang sudah ditentukan
Aku hanya
mampu perlahan
Dalam doa
yang khidmat
Kuberanikan
diri penuh tekad
Aku pernah
berhasil, hari ini pun bisa
Kuulang-ulang
seperti mantra
Beberapa
detik sebelum kuucap kata pertama
Aku merasa
akan terbata-bata
Namun, yang
menjegalku ternyata hanya prasangka
Pemenang yang
ditentukan adalah aku orangnya
Pelan-pelan
aku meniti jalan
Saat belum
tiba aku bisa menggila
Penat, tetapi
usahaku harus berkali lipat
Ingat, asal-usulku
tak punya peringkat
Kiri-kanan
beradu, aku linglung mencari tahu
Manakah
tuju? Lagi-lagi meragu
Antara
menjadi tinggi atau menjadi berarti
Sulit
kupilih berkali-kali
Saat pagi
aku menjadi penuh dedikasi
Di malam
hari aku ingin menyendiri
Di waktu
tertentu aku ingin menjadi pejuang
Di waktu
yang lain aku mengikuti perasaan
Terkadang
aku ingin tampak tangguh
Tak
sedikitpun mengaduh, tak pula gaduh
Tetapi tak jarang
aku juga ingin mengeluh
Tampak
muram, menceritakan rapuh
Aku yang
berbeda malam dan pagi
Membuatku
sulit menentukan ambisi
Seperti mencintaimu
Selamanya
memang tak akan cukup
Begitupun
aku menjalani hari-hari
Waktu enggan
berpihak, aku kalah telak
Bertemu dari
petang hingga petang
Terik tak
kunjung berbalik
Siang
sibuk, malam mengantuk
Rencana akhirnya
bertumpuk
Wahai
pembunuh waktu
Enyahlah
dari hadapanku
Besok saat kita sampai sudah
Tak lagi mandi dan tidur sebagai pemisah
Tak lagi perlu panggilan telpon bersusah-susah
Hilang resah gelisah, sah!
Besok saat kita sampai sudah
Akan kuabdikan diriku dalam rumah
Tak apa aku menjadi pesuruh
Untukmu yang selalu membuatku luluh
Besok saat kita sampai sudah
Boleh aku tinggal di sana hingga berkalang
tanah?
Juni 2014
Your words are bullets
Piercing through my chest
At times I can bare the pain
Now I can't take it no more
My words are missils
Ready to deploy and blow you up
But as the angels came to me
They whisper in my ear
You're all alone in this cave
They're just your echo
What you fear and what you hear
In your mind ways back to you
oooo ooo ooo ooo
My Echo
LM
I see you in all my waking days
And when I'm down
Your smile will light my heart like sunrays
I feel you even when you far away
Before I go to bed
I say your name when I pray
Dear Lord,
Hear my prayer
You know I love him
So please keep him out of harm's way
Dear Love,
I'd give my heart away
But life is temporary and our time will come someday
So, please don't say
You can't live without me... (Hmmm)
So, please don't say
You can't live without me... (Hmmm)
Your happiness
It isn't mine to keep
And in my serenity
I'll stand on my own feet
You and me
We're like a dream team
Together everything
Is not as hard as it seems
Dear Lord,
Hear my prayer
You know I love him
So please keep him out of harm's way
Dear Love,
I'd give my heart away
But life is temporary and our time will come someday
So, please don't say
You can't live without me... (Hmmm)
So, please don't say
You can't live without me... (Hmmm)
Don't get me wrong
I always want you by my side
More than you can think of
But please don't say, please don't say
Dear Lord,
Hear my prayer
Oh let the winds of heaven
Dance between our way
Dear Love,
I'd give my heart away
But I know that in the hand of life
Our heart can only stay
So, please don't say
You can't live without me... (Hmmm)
So, please don't say
You can't live without me... (Hmmm)
Don't get me wrong
I always want you by my side
More than you can think of
But please don't say, please don't say
That you can't live without me
LM
Dibanding lembur, aku lebih senang membaca ulang pesan-pesan kita beserta rencana-rencananya.
LM
Cinta? Perasaan yang paling sulit dipahami manusia dengan akal.
Seberapa banyak, seberapa keras, seberapa niat pun, usaha akan terus menjadi sia-sia.
Melupakan mungkin perkara kecil, tetapi ada hal-hal lain yang dengan mudah menguasai memori di waktu dan tempat yang bisa jadi tidak tepat, tidak siap.
Aku menjadi gagap dan bodoh.
Jangan menyapa.
Ada saat dimana udara terasa biasa-biasa saja
Tidak pun dingin, tak jua panas
Menjemukan
Aku tak suka biasa-biasa saja
Ada hitam ataupun putih
Mengapa kita merasakan abu-abu?
LM
Latar, kembali jadi alasan kenapa bersama Riza terasa lebih cocok bagi Lania, pun sebaliknya. Dari obrolan singkat sore itu antara Riza, Lania, dan Kailani muncul sebuah ide yang seperti gayung bersambut. Keinginan ketiga orang itu untuk lanjut S1.
“Tapi apa bisa seminggu sekali?”
“Dua minggu sekali malah.”
“Ada emang ilmunya?”
“Anggap aja ada ya kan.” Kailani makhluk paling santai yang tidak banyak berpikir. Sementarakedua lawan bicaranya cukup penuh pertimbangan.
“Masalahnya 4 tahun itu lama cuy.”
“Lebih lama kalau lu nggak ngelakuin apa-apa.” Celetukan Kailani yang langsung membuat Riza dan Lania saling pandang, kedua sorot itu bertemu seolah mengiyakan ucapan Kailani barusan.
“Mumpung kita masih muda.”
“Kamu maksudnya?”
“Iya lah, kalau lu jelas nggak muda lagi.”
Ternyata topik itu bukan hanya isapan jempol, cukup waktu sehari, mereka bertiga sudah melangkah ke step selanjutnya, mencari tahu informasi di laman website kampus, mencari-cari ragam info yang terkait dengan kampus, mulai dari fakultas, jurusan, kemungkinan menyerap ilmu dengan jam perkuliahan yang minim, dan sebagainya.
Pada saat pendaftaran, Kailani dengan yakin memilih Management. Sedang Riza dan Lania dibingungkan oleh jurusan yang ingin dipilih. Riza yang hendak memilih Ilmu Hukum, sedang Lania Sastra Inggris. Lalu keduanya kembali dibingungkan oleh pilihan Teknk Mesin.
“Kamu yakin?” Lania mencoba memastikan.
“Kita sudah kerja bertahun-tahun di bagian itu. Yakin mau ambil teknik lagi? Sanggup?” Lania kembali memastikan. Riza terdiam, ia belum tahu akan mengambil apa. Belum lagi suara Kailani yang seperti hantu menghujani Riza dan Lania dengan logika-logika berpikirnya tentang jurusan yang ia pilih.
“Ok, aku ambil hukum” Riza dengan lantang.
“Ok. Aku Sastra Inggris.”
“Itu FKIP sayang. Kamu mau jadi guru?”
“Ya nggak sih. Tapi kayaknya itu paling cocok.”
“Kita sama aja, biar jam perkuliahannya sama.”
“Kenapa harus sama?”
“Biar kita sekelas, biar bareng.” Riza mencoba meyakinkan.
Dengan mempertimbangkan cita-cita masa kecilnya sebagai pengacara, Lania akhirnya memilih jawaban iya.
“Okay. Ilmu Hukum. Not bad.”
Lebih kurang 2 minggu setelah segala macam usaha itu dilakukan, mereka bertiga sudah harus menjalani test masuk, dari tertulis, wawancara, hingga kesehatan. Bolak-balik menempuh jarak ratusan kilometer itu dilakukan dengan waktu yang cukup padat, sampai pada masa dimana semua sudah sedikit lebih melegakan. Hanya tinggal menunggu masa ospek yang sepertinya sulit mereka hadiri.
Hari itu keduanya pergi ke sebuah warung makan, berbincang banyak tentang esok, masa depan, segala hal baik yang terencana indah, karir, hidup, kesuksesan, segala macam kenaifan hidup dengan berjaya hari itu. Bersemi di pikiran keduanya yang bertemu di udara. Saat-saat dimana kita adalah kata yang seringkali muncul di sela-sela kalimat mengandung esok. Kita yang sepertinya akan mudah.
“4 tahun lagi kita lulus, mungkin aku akan mudah berkarir. Lebih percaya diri menghadapi lingkungan yang isinya manusia-manusia yang terlampau bangga dengan almamaternya.”
“4 tahun lagi mungkin kita sudah menikah.” Lania membuat perut Riza melilit.
“Ya mungkin. Tapi aku masih umur berapa 4 tahun lagi.”
“28, aku 24.”
“Terlalu muda kan?”
“Atau boleh 2 tahun setelah itu.”
“Jadi mau tinggal disini? Lama?” Lania menggeleng.
“Aku tetap pengen keluar dari sini. Segera.”
“Tapi kuliah menahan kita selama 4 tahun.”
“Risiko.”
“Kamu mau pergi kemana?”
“Yang jauh, berkarir di hal yang aku suka. Passionku.”
“Ninggalin aku dong.”
“Makanya ayok kita sama-sama.”
“Aku udah merelakan apa yang aku pengen saat aku masuk kerja disini. Inj terasa lebih realistis dan menghasilkan. Dan kita nggak punya privilege untuk mengejar apa itu passion. Idealisme dalam keadaan ini bukan pilihan yang tepat sayang.”
Lania terdiam, ia merasa kurang setuju dengan jalan pikir Riza. Walaupun bisa jadi itu benar. Sejenak ia merasa lelaki itu mengecilkan mimpi-mimpinya walaupun tanpa sengaja.
To be cont...
Mana yang lebih hebat? Barca atau Madrid? Messi atau CR7? Pertanyaan yang akan dijawab berbeda antara Lania dan Riza. Lania yang gemar Barca karena diperkenalkan mantan kekasihnya, dan Riza yang menggemari Real Madrid sejak bocah. Riza adalah CR7 wanna be, ya terlalu kentara dari potongan rambut hingga jersey yang seringkali ia kenakan. Saat bermain futsal maupun sepak bola pun, Riza tampak meniru beberapa gaya idolanya itu, termasuk merk dan motif sepatu yang ia kenakan di lapangan. Hari itu Riza dan Lania janji temu pagi-pagi sekali. Entah kemana, Riza hanya mengatakan sesuatu yang tidak spesifik tetapi sulit Lania tolak. Mata Lania yang terbiasa bangun siang saat hari libur kali ini harus dengan terpaksa ia buka seterang mungkin. Menghampiri Riza di depan gerbang yang tampak rapi, rambutnya disisir dengan gel, kaosnya disetrika licin, belum lagi saat didekati Riza seperti seseorang yang mampu membuat Lania lebih semangat membuka mata. Aroma cokelat dari tubuhnya berbenturan dengan aroma floral pada pakaian, belum lagi aroma kopi pada lotion yang bisa ia pakai.
Menyusuri jalanan kota dari kawasan kost hingga tugu obor, memutar ke Tanjung Tengah hingga kembali bertemu kawasan kost, lalu kembali lagi ke arah selatan mencari sebuah tempat yang ternyata toko olahraga.
“Ini apa sayang?”
“Tangan.”
“Salah.”
“Jari?”
“Salah.”
“Apa?” Lania mulai tidak tertarik menjawab.
“Ini sepuluh, sepuluh kali Real Madrid juara liga champion. La Decima.”
“Sinting ya?”
Memasuki toko itu, Riza langsung memisahkan diri. Ia menyatroni bapak-bapak bertubuh tinggi berambut putih yang jika ditaksir usianya memasuki lima puluhan.
“Yang sepuluh sudah ada belum sih?”
“Belum ada mas, paling seminggu lagi.”
“Ya udah seminggu lagi saya kesini ya.”
Lania berjalan keluar toko berpikir transaksi itu selesai, namun cukup lama ia menunggu di luar, Riza tak kunjung datang. Lania kembali masuk, dan menyisur area etalase dan rak sebelah kiri toko. Kekasihnya itu duduk disana. Memegang sebuah sepatu berwarna hijau stabilo yang Lania tau persis itu yang dikenakan Neymar di pertandingan terakhir. Lalu di sebelahnya pula, bercokol sebuah sepatu berwarna putih bercorak oranye yang Lania juga tau adalah sepatu hang dikenakan CR7 dua nusim sebelumnya.
“Sayang yang ini nggak ada ukurannya.” Riza berbicara sendiri sembari mengangkat sepatu berwarna putih. Lania tidak berkomentar.
“Karena adanya ini ya sudahlah.” Riza berdiri, memamerkan kakinya yang mengenakan sepatu jijau stabilo itu di depan cermin. Berpose ke kanan dan ke kiri. Lalu setelah selesai, ia dengan yakin membawa sepatu itu ke bapak penjaga.Sebelum akhirnya menggamit sebuah bola yang ia pantulkan beberapa kali ke lantai.
“Ini juga deh.” Riza mengeluarkan kartu debit, lalu menenteng plastik berisikan sepatu dan bola.
“Yakin nggak salah beli?”
“Apa?”
Lania mengetuk-ngetuk plastik yang mmbungkus box sepatu.
“Apa? Neymar?”
Lania tertawa keras.
“Bancilona katamu.”
“Cuma sepatu latihan nggak apa-apa lah.”
“Iya nggak papa sih.” Lania dengan nada mengejek dan tersenyum menggoda.
“Apa?” Riza melirik. Lania makin kencang tertawa dibuatnya.
“Nggak apa-apa sayang, yang penting ini.” Riza lagi-lagi menunjukkan kedua tangan terbuka lebar ke depan wajah gadis itu.
“Sialan.” Lania membuang muka.
“La Decima.” Kali ini Riza berucap lantang dan penuh dengan tenaga. Diikuti suara cekikikkan yang mengganggu telinga Lania.
Baru sebulan terakhir Riza merasakan ia dan Lania penuh kecocokkan. Banyak bertemu, banyak mengobrol, pergi kemanapun berdua, di kantor pun masih sering mencuri-curi waktu membahas entah apa atau makan siang bersama. Riza dan Lania menjadi topik tak mengenakkan namun nekat makin pamer kemesraan yang tidak sedikit dari orang-orang sekitar mulai muak.
Pagi itu dua orang ini datang terlambat. Entah sengaja entah tidak, keduanya sudah merencanakan keterlambatan ini di malam hari, lalu esoknya berboncengan mengendarai motor beat karbu berwarna biru milik Lania hingga ke lingkungan trans, tepat berseberangan dengan kantor mereka yang dibatasi oleh jalan hauling. Keduanya berhasil menyeberang setelah menunggu hingga truk-truk besar bermuatan batu bara lewat. Hingga sarana-sarana kecil memperlambat gerakannya di titik tempat mereka berdiri lama. Keduanya berlarian seperti bocah, tentu saja sambil berpegangan, tertawa seolah debu-debu itu bukan lagi masalah. Tiba di pos security, keduanya diizinkan masuk setelah memasang wajah memelas. Berlarian kembali dari pos hingga ke office tanpa bersalah. Sambil terus bercengkerama namun genggaman mereka lepas, cukup tahu diri untuk tidak kentara. Dari kejauhan lebih kurang 10 meter dari tempat mereka berlari, bercokol segerombol orang yang meneriaki mereka di samping unit parkir. Teriakan yang bergema di udara, menembus lapangan kosong yang sampai ke telinga keduanya dengan amat jelas di beberapa kata. Dan Lania merekam itu di kepalanya, lalu tersenyum simpul kegirangan. Sesuatu yang cukup memalukan jika ditulis disini. Intinya, apapun yang terjadi selama itu berdua, dunia seakan tetap baik-baik saja.
**
Jam makan siang keduanya bertemu kembali di depan office, berjalan beriringan menuju seberang jalan dekat tempat mereka memarkir motor. Ada warung kopi yang menyajikan indomie enak di sana. Melihat menu nasi kotak yang ah sudahlah, keduany sepakat memilih sedikit effort untuk makan di luar, walaupun saat siang bolong matahari amat terik dan debu makin tebal, mereka hirau. Lagi-lagi, selama berdua, semua jadi seperti tak apa.
“Pakai sayur.”
“Aku nggak.”
“Pakai.”
“Nggak mau.”
“Kamu lo kalau dikasi tau susah.” Riza mengoceh sembari melihat dengan tatapan penuh perhatian yang lagi-lagi Lania suka. Orang pertama yang peduli dengan apa yang ia makan, secara konsisten mengingatkan. Risih? Tentu tidak. Karena orang itu adalah Riza, orang yang bahkan kuku dan jemarinya Lania suka, sespesifik itu.
**
Waktu bertemu yang sepadat itu seolah belum cukup bagi keduanya, di usia hubungan yang belum lama, di masa-masa orang lain sedang sibuk mencemooh mereka, Riza justru membuat pergerakan lain, lebih kentara, lebih agresif. Ia memutuskan pindah kost yang tak jauh dari kost tempat Lania. Berjarak hanya beberapa rumah, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Selain bertemu di kantor, bertemu saat di rumah pun mereka lakukan, setiap hari, tanpa kecuali. Bertemu setiap hari, dan jatuh cinta setiap hari adalah hal yang gak pernah bisa Lania bendung. Riza terlalu luar biasa baginya, sikap hingga polah tingkahnya, suara hingga barisan giginya, Lania selalu berandai, boleh ia terpenjara disana?
Malam sehabis bertemu di warung pecel lele di depan komplek, mereka masih berbincang via telpon. Masih tak cukup rasanya. Selalu ingin bertemu. Selalu ingin bersama. Riza yang selalu senang mengobrol, Lania yang tak pernah mengeluh mendengarkan. Pun sebalikny, Lania seringkali membuat Riza mendengarkan cukup lama. Setelah merasa cukup mengantuk, dan perdebatan tentang siapa yang terlebih dahulu menutup telpon, Riza akhirnya mengalah dengan menutup telpon terlebih dahulu.
“Iya deh, aku tutup ya.
“Ok, good night.”
“Eh bentar.”
“Apalagi?”
“Jangan lupa isi botolmu.”
“Mager yang, lampu sudah mati juga.”
Telpon terputus.
Beberapa menit kemudian Riza tiba di depan pagar, lalu kembali menelpon Lania. Dengan terburu-buru Lania berlari keluar sembari menggamit jaket beludru yang tergantung di belakang pintu. Menghampiri Riza yang sudah siap menyodorkan sebotol air mineral yang setelah ia serahkan langsung ia tinggal pergi. Beberapa langkah setelahnya Riza berbalik dan berteriak.
“Habisin!”
Lania berdebar kencang, hatinya tak keruan. Riza sulit ia kendalikan terus tumbuh dalam dirinya.
to be cont...
Untuk pertama kali semenjak pindah, Lania sedikit lebih kenal dengan Dinda. Malam itu setibanya di kost, Lania dan Dinda berbincang di depan TV di ruang tengah. Lania berganti pakaian dengan dress pendek berwarna hijau andalannya, sedang Dinda dengan piyama floral yang masih baru. Lania membuat segelas kopi hitam, dan Dinda dengan serealnya. Kedua perempuan dengan tampilan dan selera yang berbeda.
“Kamu tau nggak Riza itu pernah naksir aku?” Sebuah obrolan pembuka yang nyaris membuat Lania menumpahkan kopinya.
“Oh ya? Serius?” Lania berpura-pura penasaran.
“Iya, dulu. Padahal dia tau aku pacar bosnya.”
“Mas Pane?”
“Iya, tau kan?”
“Kok dia berani?”
“Ya begitu deh, kayak sering ngechat, terus nanti ngerayu, gombal. Ah pokoknya gitu.”
“Kamunya gimana? Nggak suka?”
“Ya nggak lah, gila apa? Kan sudah ada cowokku.”
Lania mengangguk-angguk karena bingung merespon apa.
“Lagian Riza itu gayung tau.” Tambah Dinda. Lania mengerutkan kening pertanda tak paham dengan istilah itu.
“Semacam player gitu lah. Siapa aja diembat.” Kalimat yang menbuat Lania menelan ludah.
“Oh gitu? Semua cewek single di kantor?”
“Hampir.”
Lania memundurkan kepalanya, memposisikan badanny sedikit bersandar pada sofa. Mendengarkan cerita Dinda yang dalam setengah jam sudah banyak mengeluarkan hal-hal yang bisa membuat Lania membayangkan bagaimana kota ini sedetail mungkin, berikut penghuninya.
**
Sepulang kerja, Lania langsung menuju dapur dan melirik makanan yang tersaji di meja. Mbak koki di kost memang juara, masakan yang dibuat tak pernah mengecewakan, setidaknya sebulan terakhir. Lania fokus melihat oseng tahu dan sawi putih yang dicampur dengan telur orek dan cabai. Mata Lania berkilat-kilat. Menu favoritnya. Ia berlari ke kamar, dan kembali dalam sekejap.
“Mbak Lan nggak mandi dulu?”
“Nanti saja mbak. Laper.” Langsung saja ia menyantap makanan itu tanpa peduli sekitar sedikitpun. Sampai akhirnya ponselnya berdering.
“Ya mas?”
“Dimana Lan?”
“Di kost.”
“Sibuk nggak?”
“Lagi makan. Ngomong aja.” Di balik telpon, Dharma bingung ingin memulai darimana. Lidahnya kelu, kalimat-kalimat yang ia rangkai sebelum menelpon tercekat.
“Bener gosip itu Lan?” Lania yang tengah mengunyah sawi mendadak terhenti dan berpikir apa yang Dharma maksud. Namun itu tidaklah sulit. Hanya saja Lania tidak pernah berpikir bahwa Dharma akan tahu hal itu.
“Riza maksudmu?”
“Ya.” Sebagai teman lama Lania merasa tak perlu menyimpan rahasia dengan Riza.
“Iya mas.” Lania berbicara dengan nada setengah malu-malu.
“Kok bisa? Kamu kan baru pindah lan? Dan kamu nggak tau gimana dia.” Dharma berapi-api.
“Udah, sekarang kamu tinggalin dia. Dia nggak baik buat kamu.” Dharma semakin emosional saat ia ingat lelaki itu pernah mendekati Nona, bahkan belum lama ini.
“Tenang aja ma, aman kok.”
“Aman-aman gimana? Kamu sudah kena omongannya dia kayaknya.”
“Emang omongan gimana sih yang kamu bayangin?”
“Banyak. Yang pasti hal-hal taik yang bikin cewek bisa aja GR.”
“Kamu pikir aku orang yang semudah itu?”
“Ya siapa tau kali ini kamu lagi gila. Apalagi kudengar kamu udah berani pergi ke luar kota berdua.”
“Aku bisa jaga diri kok.”
“Lan, bahkan ke Nona aja dia berani. Nona lan. Pacarku. Kamu pikir deh.”
“Becanda kali ma.”
“Terserah kamu lah. Yang pasti aku sudah ngasih tau.” Telpon terputus.
Belum lama hubungan itu terjalin, sudah banyak kabar buruk perihal Riza. Dan dipikirkan bagaimanapun semua apa yang Lania dengar itu masuk akal. Ya, mungkin saat ini ia memang memilih orang yang salah, tetapi kesalahan itulah yang ia cari.
To be cont…
Bisnis sedang tidak mudah, harga batu bara sedang tidak sabil. Imbasnya? Jam kerja dipangkas dan 75% karyawan dipulangkan lebih awal. Lania duduk di barisan tengah bus, sedang Riza di depannya. Sepanjang jalan dari hauling hingga jalan negara berkali-kali Riza mencuri-curi melihat ke belakang melalui sela-sela kursi. Namun, entah dipercobaan ke berapa keduanya berhasil mempertemukan sorot tepat jatuh di pupil satu sama lain. Hingga sulit keduanya menghindar dari salah tingkah yang untungnya mereka pikir tidak disadari sekitar. Pergerakan demi pergerakan dari Riza yang Lania cukup suka.
“Apa sih ja ngelirik-ngelirik kesini mulu.” Dinda yang duduk satu baris di belakang nyeletuk yang akhirnya membuat nyaris seisi bus menoleh.
Dengan rona malu Riza memutar kepalanya dan menghadap ke depan. Lania sulit menahan tawa, ia merasa itu cukup lucu namun ia jadi mengevaluasi, apakah memang bukan dia yang Riza lihat?
Bus berhenti tepat di depan jalan menuju kost Riza, namun ia memilih tidak langsung turun. Terus saja melaju hingga titik pemberhentian terakhir di tempat Lania biasa memarkir motor.
“Malam ini sibuk nggak?” Lania kaget karena tak sadar Riza mengekorinya hingga tempat parkir.
“Nggak sih.”
“Jam 8 ya, karaoke, ajakin temanmu yang lain.”
“Oh ok.” Lania tanpa pikir panjang mengiyakan. Bahkan ia tak tahu siapa saja yang akan ikut, atau apa saja yang mendasari Riza mengajaknya.
**
Riza mengirim pesan setengah jam sebelum berangkat.. Lania meluncur dari kost dan langsung menuju lokasi. Debarnya tak karuan menunggu saat-saat bertemu Riza, bukan kali pertama, tetapi rasanya masih sama.
“Mbak Lan, sini!” Dari depan pintu masuk seorang lelaki memanggil. Samar-samar baru Lania kenali ia adalah Kailani yang beberapa kali ia jumpai di kantor.
“Sendiri aja mbak?”
“Iya, Jeni kuajak nggak mau.”
Kailani merespons dengan anggukan dan senyum simpul.
Di salah satu sofa, Lania melihat sosok yang kurus, tinggi, berambut klimis dengan gel yang disisir rapi, fokus berbincang dengan perempuan di depannya, Dinda.
Lania dan Dinda saling menatap, keduanya terjebak dalam frekuensi canggung yang sulit dijelaskan.
“Kalian satu kost kan?”
“Iya.” Lania menjawab lirih.
“Kok nggak bareng aja?”
“Karena ga tahu dia ikut.” Suara Dinda datar namun tatapan matanya mengisyaratkan ketidaksukaan.
“Lebih tepatnya karena nggak akrab kali ya.” Lania melengkapi kalimat itu dengan tertawa seolah-olah itu lucu. Namun suasana jauh lebih canggung dibuatnya.
Mereka berempat memesan sebuah ruangan small dan siap beradu lagu selama 120 menit. Lania duduk paling kiri, Dinda di tengah, lalu Kailani, dan paling kanan Riza. Tidak banyak pergerakan yang bisa dilakukan empat orang itu. Ruangan benar-benar pas. Sedari awal mulai, Riza dan Dinda beradu dengan lagu-lagu hits dari penyanyi luar. Sedang Kailani mahir dengan lagu-lagu band 2000-an. Kini giliran Lania, ragu-ragu ia memilih lagu favoritenya saat karaoke. Karena ia terbiasa dengan geng para penyamun yang karaoke benar-benar untuk hiburan dan jauh dari jaim. Kini ia kesulitan menentukan lagu apa yang pas dibawakan di depan orang-orang baru yang sudah memamerkan kebolehan menyanyi hingga selera musik yang menurut Lania, sorry, mainstream. Mainstream bagi anak-anak muda yang takut terlihat tidak keren. Melihat situasi itu, Lania mulai mencoba-coba memilih satu lagu.
Zaaaenaaal… Maafkanlah…
Lania memilih tidak melihat ke sekitar. Ia fokus menatap layar. Khidmat menyanyikan lirik demi lirik. Walaupun sulit ia merasa keren di situasi itu.
“Ah sial, nggak ada satupun yang excited dengan lagu dangdut yang seharusnya penuh keceriaan. Lania merasa minoritas.”
Bahkan di tengah-tengah lagu Dinda keluar, disusul Riza, beruntung Kailani tidak mengekori mereka pula. Zaenal usai, giliran lagu milik Dinda yang diputar namun perempuan itu belum jua kembali. Sekitar 2 menit lagu dimulai, Riza kembali lebih dulu, dan langsung membuat pergerakkan tak terduga, duduk tepat di samping Lania. Tepat setelah ia duduk, Dinda masuk dan merasa ganjil melihat itu. Walaupun Kailani sudah tidaklah kaget lagi.
Dari menit ke 34 hingga 120 menit habis, Riza dan Lania tak lepas memegang tangan satu sama lain. Tak peduli sekitar, tak peduli komentar. Ruangan kecil itu seakan hanya milik mereka berdua.
To be cont…
Suara printer, hentakan stempel, dering telepon, bisingnya ruang pemotong besi, klakson alat angkat yang lalu lalang, suara-suara karyawan yang saling beradu di udara membuat Lania yang kurang tidur semakin pusing dibuatnya. Pesan masuk di BBMnya.
“Aman saja kan?”
“Sejauh ini aman.”
“Ga ada yang curiga?”
“Ga ada.”
“Baguslah.”
Hingga pukul 10 pagi, Lania merasa suasana di kantor masih kondusif terkait bolosnya ia dan Riza. Belum ada aliran protes atau bully yang mengganggu, padahal itu sudah ia prediksi.
Lania membawa tumpukkan dokumen ke gedung utama untuk difotocopy. Dan di belakang mesin fotocopy tepat tempat duduk Riza. Ia ingin mundur melihat kekasih barunya itu bercokol disana, tetapi dua orang CS yang duduk di lobby pasti akan merasa itu pergerakan yang aneh. Lania memberanikan langkahnya.
Memasukkan user dan password, meletakkan kertas, menekan tombol copy, semua dilakukan Lania dalam keadaan setengah berdebar. Apalagi tak lama suara khas Riza tiba-tiba memanggilnya. Lania merasa ada dalam halusinasi, namun itu nyata.
“Lan.”
“Lan.”
“Lan.” Pada panggilan ketiga barulah Lania menengok. Riza memperlihatkan tulisan besar dalam excel di monitornya.
“I LOVE YOU”
Lania membuang pandangannya dari sana ke arah Riza yang terlihat tersenyum kecil dan ekspresi menggoda, Riza lalu cepat-cepat mengganti layar ke tampilan lain agar tidak ada yang melihat. Lania geleng-geleng kepala. Ia senang sekaligus malu. Namun di sisi lain, ia tak terbiasa dengan polah tingkah sedikit menjijikkan itu. Tak terbiasa sekaligus tersentuh. Kerumitan dalam kepala Lania menyerang dalam sekali nafas.
“Cieee. Jadi udah resmi? Cie cie cie.” Dari ruangan Bu Hamidah, Jeni berteriak memecah konsentrasi para karyawan yang tengah fokus di kubikal. Semua akhirnya mengarahkan fokus pada kedua orang yang diduga menjadi pasangan baru itu. Bu Hamidah hingga berlari ke luar ruangan mengekori Jeni. Wanita hampir pensiun itu menghampiri Lania lalu mendorong-dorong gadis itu dengan penuh tenaga diikuti suara cie cie cie yang teramat mengganggu. Sedang Kailani yang baru tiba dari pantry berlari mendorong-dorong Riza. Suasana yang lebih mirip pembullyan terhadap anak SMP itu terjadi sekitar 10 menit, suasana mengganggu dan membuat keduanya resah. Apa yang tersiar saat mereka berdua menghilang?
**
Di kokunitas kecil makan siang para ibu-ibu, akhirnya Lania bergabung disana. Menyusun formasi di lantai beralaskan kardus, menyantap nasi kotak dengan berbagai keluhan, belum lagi tambahan topik ghibah lain yang membuat mata mereka berkilat-kilat. Lania merasa minoritas yang tersingkir disana. Menggunakan bahasa banjar dengan dialek Tanjung yang kental mereka melempar cerita-cerita yang tak dipahami Lania.
“Diva ngalih ai sudah. Harga pupurnya haja berapa?”
“Maka kijil banar mun bepandiran lawan kosong satu.”
“Sorang kada kawa telawani am mun kaitu.”
“Gaji sorang gasan maisi bensin hunda-nya haja kada mayu.”
“Han kalu bida level.”
Lalu semuanya tertawa bersamaan. Lania semakin bingung, namun tak berniat untuk mencari tahu sampai saat topik yang ia pahami dimulai.
“Lain lagi mun nang hanyar ni, langsung gas tedapat baung.” Tiwi memulai.
“Paling ha mancuba-cuba lakiannya, satumat ai bajauh pulang.” Isna menanggapi.
“Maka kulihat status biniannya ngintu baisi pacar disana.”
“Iyaleh? Bisa ai tuh gasan beramian jua. Jurang sama tih bededua.”
“Panyakit nang diulah ngintu.”
Kembali mereka tertawa keras dengan sesuatu yang bagi Lania tidaklah lucu.
“Apaan sih, taik.” Batinnya.
to be cont...
Menemukan kehidupan lain dalam mata seseorang adalah kalimat bias yang gombal tetapi nyata dirasakan Lania sekarang. Riza yang penuh perhatian, penuh tanggung jawab, penuh cinta, seketika membuat Lania merasakan hal baru. Seperti jatuh cinta lagi dan lagi, setiap saat. Walaupun ia sulit merasakan sebahagia saat bersama Badawi, namun setidaknya secara logis sikap dan polah tingkah Riza jauh lebih baik. Sangat jauh.
Aku memang pernah lebih bahagia, tetapi tak pernah merasa sesempurna ini. Terima kasih.
Di perjalanan pulang, Riza dan Lania berbincang lebih banyak lagi. Perkenalan Lania dengan beberapa keluarga dekat Riza memang membuatnya sedikit mengerti gambaran kecil keluarga Riza. Dan itu nilai tambah bagi kekasihnya itu. Lelaki sederhana yang penuh tanggung jawab kepada keluarga yang punya beban menjadi anak pertama untuk adik-adiknya dan ibu yang harus menjadi buruh petik kopi di kampung. Riza adalah cara lain bagaimana Tuhan mengajari Lania tentang bentuk tanggung jawab, itulah yang Lania pikirkan di sela-sela obrolan mereka seputar keluarga.
Lalu, Lania pun tak enggan berbagi cerita seputar dirinya. Kehidupan menyebalkan yang ia lewati, masa kecil membagongkan, masa remaja penuh kegagalan, perjuangan hingga di titik sekarang. Namun, beberapa cerita ia biarkan tetap ada di kepalanya, hanya beberapa persen yang berani ia ceritakan. Termasuk perihal keluarga secara utuh.
“Ya, nanti kalau aku menikah dan misal suamiku harus pergi duluan dan aku punya anak, sebisa mungkin aku nggak akan menikah lagi.”
“Kenapa?”
“Ya aku nggak mau apa yang kejadian di aku, kejadian lagi di anakku.”
Riza menahan diri untuk bertanya lagi. Ia justru menghubungkan perkataan Lania dengan kejadian beberapa tahun silam. Ketika ibunya menikah lagi, rasanya seisi langit runtuh. Merasa dikhianati, merasa bersalah pada mendiang sang ayah, merasa sulit percaya pada siapapun, marah, kecewa, benci, pun sedih tak terbendung. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Dan sayangnya, tak ada yang bisa ia lakukan sedikitpun. Alasan sang ibu cukup masuk akal, semua adalah faktor ekonomi yang juga masih sulit ia penuhi sebagai sulung.
Gambaran masa depan dari Lania disertai sedikit cerita masa kecilnya membuat Riza merasakan perasaan menghangat. Latar yang mirip, kisah yang hampir serupa, membuat mereka berdua ada frekuensi yang sama. Membayangkan esok yang sama. Berdua. Dan, ia suka dengan jalan pikir Lania.
*
Bersama dengan sanak keluarga, Dave datang mengunjungi Bertha malam itu. Membawakan sebuah tiket dan bukti pemesanan travel agent, ia dengan sumringah menyampaikan tempat bulan madu mereka. Menceritakan rinci tempat tujuan hingga hal-hal seru yang bisa mereka habiskan. Bertha yang tengah menunggu telpon dari Riza menanggapi Dave dengan seadanya. Ia tak begitu antusias. Pikirannya terbagi di tempat lain.
“Kamu sehat kan?”
“Sehat, cuma agak ngantuk.”
“Mau istirahat sekarang?”
“Boleh?”
“Istirahat saja.” Dave beranjak dari teras dan membaur dengan keluarga lainnya di ruang tengah. Bertha bergegas ke kamar sebelum keluarga lain mencegatnya dengan banyak pertanyaan. Sayangny, Fitri ada disana. Perempuan itu mengekori Bertha ke kamarnya dan berusaha membaca situasi.
“Sampai kapan de?”
“Kamu sudah mau menikah.”
“Masih mau ingat-ingat si kampret itu?”
Bertha menggeleng, tatapannya kosong, ia merebahkan diri sebelum matanya memanas dan menangis. Ia menangisi entah apa. Hatinya sedih, terlebih melihat Dave yang berlaku teramat baik. Sedang dalam kepalanya masihlah menyimpan Riza, Riza, Riza yang tak pernah melakukan apapun saat ia akan dijodohkan.
"Kenapa dia nggak mau sedikit berusaha kak?”
to be cont...
Udara panas Samarinda dilawan oleh semangkuk pisang ijo dan seporsi coto plus iga bakar di sebuah warung makan. Sepanjang turun dari angkot, Riza enggan melepaskan genggamannya dari tangan Lania. Satu hal yang paling disukai Lania adalah ini, sentuhan. Lania merasa ketika kekasihnya melakukan itu di tempat umum menandakan ada sebuah deklarasi bahwa perempuan ini adalah milikku dan bagi Lania itu penting.
“Suka?” Riza mendapati Lania senyum-senyum sendiri saat Riza semakin kuat memegang tangannya. Lania mengangguk merespons itu.
“Sesuka itu sama aku?” Lania kembali mengangguk. Satu hal yang Riza sukai dari Lania, kejujurannya. Sedari awal mengenal gadis itu, Riza sudah disuguhi hal-hal tak terduga termasuk sikap Lania yang tak segan menunjukkan rasa suka dan bahagianya ketika bersama Riza.
“Aku nggak pernah kenal perempuan seceria kamu.” Itu yang meluncur dari mulut Riza kala itu.
*
Tiba di sebuah hotel, Lania dan Riza memutuskan memesan satu kamar sebelum Riza beranjak ke rumah omnya di kawasan Pasar Impres Baqa.
“Nanti kamu ikut ya.” Lania patuh.
Keduanya kembali menyusuri jalanan Samatinda menggunakan angkot hingga tiba di kediaman Om Ubed.
“Kapan sampai?”
“Barusan om.”
“Ini siapa?”
“Teman.”
“Disini tinggal dimana?”
“Di rumah keluarganya om.” Lania dan Riza saling pandang setelah Riza menjawab itu. Dalam pandangan itu ditemukan sandi-sandi kode yang menyiratkan mereka harus konpak dalam menjawab dan beberapa jawaban diantaranya adalah bohong.
“Keluarganya daerah mana?” Om Ubed menatap tajam pada Lania seolah menunggu jawaban itu langsung dari gadis itu.
“Loa janan om.” Cuma itu daerah yang Lania tahu tentang Samarinda, dan dengan spontan meluncur begitu saja dari mulutnya walaupun tetap dengan terbata-bata.
Tante Levi, istri dari Om Ubed mempersilakan mereka minum teh hangat dan menikmati kudapan berupa kacang atom buatannya sendiri. Dari tempat itulah awal mula muncul kebiasaan, Lania memakan bagian luar kacang atom, sedang Riza bagian kacangnya. Sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan.
**
“Saudara di Loa Janan itu siapamu?” Om Ubed ternyata belum usai dengan pertanyaan-pertanyaannyya.
“Sepupu om.”
“Kerja dimana?”
“Di tambang om.”
“Suda lama disini?” Dan masih banyak lagi pertanyaan demi pertanyaan yang memaksa Lania berbohong lagi, berbohong lagi.
**
“Dia HRD loh di kantornya.”
“Serius?”
“Ya, paling nggak kebohongan tadi kentara.”
“Sinting ya kamu. Kenapa harus bohong sih.”
Riza mengangkat pundak, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
*
Kabar kedatangan Riza dan Lania di Samarinda tersiar cepat hingga sampai ke telinga Bertha, entah darimana asalnya. Yang jelas kedatangan Riza dengan perempuan lain sebelum mereka benar-benar berpisah membawa awan hitam bahkah petir bagi Bertha.
“Nggak bisa banget ya kamu tunggu sebentar lagi?”
“Kenapa harus kamu pamer-pamerin di depan keluargamu?”
“Agustus itu nggak lama.”
Berkali-kali Bertha mencba menghubungi Riza, namun tak jua ia mendapat jawaban. Ketika kekesalah membuncah, keluarlah kalimat-kalimat tidak perlu yang bertujuan menyakiti hati Riza.
“Aku nyesel transferin kamu uang, aku pikir niatmu pergi untuk keluargamu, tapi malah sama cewek lain. Kamu seniat itu ya mau langsung move on?”
Tak jua pesan itu mendapat tanggapan, sementara Bertha menangis sejadi-jadinya. Ada ego yang terlukai, ego harusnya ia yang move on terlebih dahulu, karena ia yang lebih siap dengan perpisahan inj.
*
Saat sudah kelelahan menangis, Bertha tertidur dengan mata sembab. Ia tiba-tiba terbangun dengan nada pesan yang memang sengaja ia setting cukup nyaring. Pesan dari Riza.
“Nggak kok, dia cuma mau bareng aja kesini. Bukan siapa-siapa.
Dusta yang sedikit menenangkan Bertha.
To be cont...