Hari jumat
pada umumnya menjadi hari santai bagi hampir seluruh karyawan. Selain jam
istrirahat yang cukup lama karena sholat jumat, juga karena jadwal rapat
seringkali kosong di hari tersebut. Elok pun berangkat kerja dengan perasaan
ringan, karena sabtu-minggu ia akan bersantai menikmati libur. Berjalan dari
tempat parkir hingga naik ke ruangan Elok sengaja tetap mengenakan penyuara
telinga. Musik slow mengalun membawa Elok pada perasaan damai dan relaks. Beberapa
kawan yang ia jumpai di lift hanya ia sapa dengan senyum atau lambaian tangan.
Tak ada satu suara pun yang ia biarkan mendistrak rasa bahagianya pagi ini, atasannya
sekalipun. Elok tiba di ruangan, meletakkan tas, menyalakan komputer, kemudian
ke toilet untuk merapikan rambut dan riasannya. Setelah usai ia ke pantry untuk
membuat segelas kopi. Elok masih enggan melepaskan musik di telinganya, hingga Dharma
menyapanya di pantry.
”Kapan
rencana pulang El?”
”Pulang
kemana?” Elok tersenyum.
”Ke
Kuala.” Dharma menunjuk ke arah barat.
”Mungkin
akhir tahun.” Elok tampak ragu-ragu.
”Lama
banget. Nggak kangen abang?” Dharma tersenyum, Elok pun turut tersenyum, ia
paham maksud kawannya itu. Sebelum Elok bekerja, Gardana pernah beberapa kali
membawa Elok ke kampung halamannya, dan bertemu Dharma disana. Saat tiba di
kantor ini, Elok baru sadar jika Dharma satu kantor dengannya, karena lebih
seringnya Dharma tugas di luar kota.
”Masih
kan?” Dharma memastikan. Elok menggangguk saja sembari tetap tersenyum. Ia seperti
tak ingin menjawab dengan gamblang. Biar saja ini menggantung saja. Biar mereka
yang menyimpulkan sendiri. Mungkin itulah yang dipikirkan Elok.
Seperti
sudah mendapatkan jawaban yang ia mau, Dharma berlalu meninggalkan pantry. Elok
tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas. Jantungnya berdegub kencang seperti tengah
meluapkan rasa bersalah. Pikirannya tak jelas berlarian ke sudut-sudut
kemungkinan yang ia benci. Entah mengapa.
Perasaan
kacau itu tiba-tiba buyar saat Afif menelepon.
“Halo
iya.”
“Bantu cek jadwal meeting sama
team legal kapan El?” Dari jauh Afif terdengar terburu-buru. Elok bergegas ke
mejanya.
”Selasa,
jam 2 siang.” Setelah melihat jadwal yang ada di komputernya.
”Bantu re-schedule dong. Selasa
ada keperluan mendadak nih.” Afif meminta pada Elok.
”Maunya
kapan? Karena Pak Abu yang minta di hari itu.” Elok mengingat-ingat saat Pak
Abu kebingungan mengatur jadwalnya dengan team legal.
”Pak Abu
mah gampang, yang penting kan hasilnya.” Afif
tetap ingin jadwal diubah. Elok patuh, ia coba menghubungi team legal dan
mendapatkan jadwal sesuai keinginan Afif, mundur 2 minggu.
“Oke sudah
aman.” Elok mengakhiri telepon.
”Siapa?”
Aco sudah berdiri di hadapan Elok dan menanyakan yang ia telepon.
”Afif.”
Elok menjawab sambil menutup ponselnya.
”Ngapain dia?” Aco
bertanya lagi dengan nada yang membuat Elok kurang nyaman.
”Minta bantu re-schedule meeting
doang.” Elok menjawab dingin.
“Kok ke kamu,
kan bisa ke adminnya.” Pertanyaan
Aco mulai intimidatif. Elok tak bisa menjawab lagi.
“Lain kali
arahin ke Dinda aja, jangan kamu yang kerjain.” Aco mengucapkan itu dengan
penuh penekanan, lalu meninggalkan meja Elok dan berjalan menuju toilet. Elok
masih tak memahami situasi yang baru terjadi. Ia seakan ditegur untuk hal yang
bukan kesalahannya. Tetapi ia tak punya jawaban untuk membela diri. Tetapi ia
juga kesal dengan sikap Aco yang seakan memojokkannya. Tetapi-tetapi yang lain
yang membuat Elok merasa hari itu ada sisi lain Aco yang baru ia lihat.
Dari
jauh ternyata Dharma mengamati situasi itu, wajah Aco yang intens melihat ke
arah Elok, Elok yang tampak menjawab dengan takut-takut, semua itu terasa
janggal bagi Dharma.
**
Lama
Elok tampak menganggur, tak terasa bell istirahat siang berbunyi. Seisi ruangan
berebut keluar untuk makan siang. Elok masih berdiam diri di meja, ia masih
bingung hendak makan apa hari ini. Beberapa kawan perempuan mengajaknya makan
bersama, Elok menolak dengan halus. Karena siang ini bebar-benar istirahat panjang
dan sayang jika hanya tinggal di ruangan.
”Ayok
El, kita mau makan kepiting.” Safira yang keluar dari toilet mengajak Elok. Safira
seperti orang terakhir yang ada di ruangan. Para lelaki sudah menuju masjid
untuk sholat jumat.
”Dimana?”
Elok bertanya dengan kurang semangat.
”Arah
Manggar, yuk. Udah pada nunggu di bawah.” Safira meyakinkan. Seperti kena
hipnotis Elok mengikuti ajak Safira.
Di depan
kantor sudah berkumpul sekitar 4 orang termasuk Bu Santi. Mereka menunggu Jenni
mengambil mobil di parkiran.
”Tumben mbak mau ikut.” Bu Santi
sedikit kaget melihat Elok. Saat Jenni tiba pun ia kaget melihat Elok yang
tiba-tiba mau bergabung makan siang dengan mereka.
Tiba di
salah satu restaurant seafood, mereka sudah siap memesan menu combo yang bisa
dimakan bersama. Saat menunggu makanan datang, masing-masing dari mereka sudah
sibuk mengobrol. Yang tersisa hanya Elok dan Safira yang diam saling
berpandangan. Mereka canggung, seperti ada yang ingin ditanyakan.
”Kemana
libur kemaren El? Katanya kamu pulang ya?” Safira berbasa-basi. Elok tak siap
mendengar pertanyaan itu. Ia kewalahan dan hanya memilih tersenyum dan
mengangguk.
”Pulang
kampung El? Ada acara apa?” Dinda ikut bertanya.
”Berapa
jam sih El kalau dari sini?” Bu Santi juga turut menambahkan.
”Sekitar
8 jam bu.” Hanya pertanyaan Bu Santi yang dijawab Elok.
”Jauh ya? Capek banget.” Bu Santi
menanggapi.
“Denger-denger
kamu dideketin Aco?” Tanpa basa-basi Jenni bertanya.
”Hah?
Nggak.” Dengan spontan Elok menjawab. Dalam situasi itu seperti tidak tepat
jika ia jawab dengan jujur.
”Iya
janganlah ya.” Bu Santi terkekeh. Elok memilih tidak bertanya lebih lanjut.
”semua
orang juga dideketin masalahnya.” Jenni menimpali Bu Santi sambil tertawa.
”Masa iya?”
Bu Santi bertanya polos.
”Iya
lah. Nih nih nih korbannya.” Jenni menunjuk Dinda, Safira, dan dirinya sendiri.
Bu Santi terdiam tak lagi berkomentar, Elok pun sama namun kepalanya tiba-tiba
dipenuhi banyak pertanyaan. Hatinya sedikit terluka. Kembali ada sisi lain yang
sepertinya tidak ia ketahui dari kekasihnya itu. Atau mungkin ia memang belum
mengenal lelaki Aco? Menyelesaikan makan siang dan kembali ke kantor dengan
perasaan yang kurang nyaman.
**
Elok
tiba di kantor 5 menit setelah bel masuk. Aco sudah ada di mejanya. Aco sedikit
terkejut melihat Elok datang bersama gerombolan ibu-ibu yang sedari awal ia
wanti-wanti agar tidak Elok dekati. Pun setahu Aco, Elok juga tidak nyaman
bergabung dengan gerombolan itu. Aco spontan langsung bertanya pada Elok.
”Darimana?” Aco mengirim pesan. Di mejanya
Elok tampak membuka komputer dan sudah mulai bekerja.
”PING!”
Aco mengirim pesan lagi. Elok masih belum membalas.
”PING!”
”PING!”
”PING!”
”PING!”
”PING!”
”PING!”
”PING!”
”PING!”
Terus
saja Ao mengirim pesan, tak terlihat Elok membalasnya atau sekadar membacanya.
Aco tidak sabar menunggu, ia pun beranjak dari kursi dan menghampiri Elok.
”Mana
Hapemu?” Wajah Aco tampak marah, Elok yang tengah membuat laporan seketika
langsung merogoh ponselnya di dompet yang tadi ia bawa.
”Kenapa?”
Elok bertanya sembari membuka ponselnya.
”Balas
itu.” Aco melotot kepada Elok, suaranya pelan namun penuh penekanan. Wajahnya
merah padam seolah kesalahan Elok amat fatal. Elok bergegas membalas pesan itu.
”Manggar.
Makan kepiting.” Elok membalas.
”Sama
mereka?” Aco kembali memastikan.
”Iya.” Elok
membalas singkat.
”Kenapa?
Tumben?” Aco kesal.
”Kenapa?
Sesekali aja.” Elok membalas cepat.
”Terakhir
ya, jangan lagi.” Aco melarang.
”Kenapa
emang?” Elok bertanya.
”Mereka
penggosip. Isinya ghibah kan pasti?” Aco
curiga. Elok ingin sekali membahas dengan Aco yang tadi ia
dengar, namun ia enggan karena masih merasa sakit hati dengan itu. Lebih
tepatnya ia tak siap mendengar jawaban Aco. Ia memilih mengakhiri obrolan itu
dengan mengiyakan kemauan Aco.